Langsung ke konten utama

Postingan

Dermawannya Gusti Allah itu Ga Harus Follow Dulu Kayak Influencer Jaman Sekarang

Ahmad Muzayyin Dalam dunia digital yang kita hidupi sekarang, istilah influencer sudah begitu melekat dalam keseharian. Kita sering kali melihat bagaimana para influencer, selebriti, atau konten kreator menjanjikan berbagai giveaway dan bentuk-bentuk “kedermawanan” lainnya, tetapi ada syaratnya: follow dulu ya akun gue! Seolah-olah, rasa kedermawanan ini memiliki harga, dan harga itu adalah "klik" pada tombol follow. Ini lumrah di era modern di mana perhatian, engagement, dan angka followers adalah aset yang paling berharga. Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan lebih dalam: apakah benar bahwa segala bentuk pemberian dan kebaikan harus diikuti dengan pamrih? Haruskah kebaikan dibarter dengan perhatian atau popularitas? Jika kita amati lebih jauh, dunia digital ini mencerminkan pola pikir transaksional yang semakin berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk mendapatkan sesuatu, kita mesti “membayar” dengan sesuatu yang tak melulu uang, tapi bisa berupa perhatian...

Kediri oh Kediri, Part 1

Rabu, 25 September 2024, Saya bersama dengan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke Kediri. Kami pergi ke kediri dalam rangka menghadiri undangan pernikahan salah satu Mentor/Ustadzah MTA UIN Bandung, yaitu teh Makhyatul Fikriya yang akan menikah pada Sabtu 28 september.  Awal Mula Perjalanan Mula-mulanya berawal dari kang Nafi yang ngajak mentor-mentor untuk ikut serta ke Kediri buat kondangan. Tentu saja hal ini disambut baik oleh kami, khususnya saya yang kala itu memang sedang butuh healing alias jalan-jalan. lumayan, ada moment dan ada alasan buat keluar kota. apalagi dengan porsi budgeting yang relatif sangat murah.  Kami termasuk yang beruntung sih, karena kami dapet tiket kereta kahuripan di harga 200k, dan itu sudah PP (Pulang pergi). biasanya tiket-tiket kereta apalagi kereta yang antar provinsi mahal-mahal. bisa menyentuh angka 600k an untuk yang eksekutif, namun kali ini rejeki lagi ada di pihak kami. wkwk Malam itu juga, yang fiksasi langsung beli tiket, kare...

Rihlah Perdana Ma'had Tahfidz UIN Bandung: Antara Kebersamaan dan Kenangan Manis

Akhir tahun ini, para mahasantri Ma'had Tahfidz UIN Bandung benar-benar beruntung. Untuk pertama kalinya, mereka mengadakan rihlah (perjalanan) yang menjadi agenda penutup tahunan. Rihlah perdana ini digelar di Pangalengan Bandung selama dua hari satu malam. Seperti yang bisa diduga, kegiatan ini penuh keseruan dan makna. Rihlah ini bukan sekadar perjalanan biasa. Pagi-pagi sekitar pukul 7, para mahasantri sudah siap dengan dua komando keberangkatan: satu kelompok naik 2 mobil ranger TNI dan satu lagi naik motor dalam tiga kloter. Antusiasme terlihat jelas dari wajah-wajah mereka sejak awal keberangkatan. Sesampainya di Pangalengan, acara resmi dibuka oleh Direktur KH. Dr. Asep Mustofa Kamal, M.Ag., yang memberikan sambutan penuh semangat. Setelah itu, panitia sudah menyiapkan berbagai macam perlombaan untuk meramaikan hari pertama. Tapi, rencana manusia tetap saja kalah sama cuaca. Hujan turun tanpa kompromi, sehingga hanya satu lomba yang terlaksana. Meski begitu, semangat para m...

Menjaga Hubungan Akrab dalam Badai Politik: Panduan Bijak untuk Keluarga dan pertemanan di Pilpres 2024

Pemilihan presiden selalu menjadi momen krusial yang memicu berbagai kejadian dan diskusi di seluruh negeri. Namun sayangnya, pengalaman tersebut tidak selalu membawa kegembiraan, terutama dalam konteks hubungan keluarga dan pertemanan. Dalam tulisan ini, kita akan membahas secara lebih rinci mengenai potensi risiko kerusakan hubungan keluarga yang disebabkan oleh perbedaan politik, memberikan kritik terhadap perilaku yang merugikan, dan memberikan saran praktis tentang bagaimana kita dapat menjaga nilai dan norma persaudaraan di tengah era pilpres 2024 yang mungkin intens. . . Polarisasi politik tidak hanya mempengaruhi arena publik, tetapi juga dapat merusak fondasi hubungan keluarga dan pertemanan. Perbedaan pandangan politik yang kian tajam bisa memicu ketegangan emosional, bahkan ancaman hubungan yang telah terjalin erat selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang bagaimana memitigasi risiko ini sangatlah penting. Menciptakan ruang untuk dialog terbuka sanga...

Reminder: manfaat dan pentingnya bersedekah dari "ayah dan anak"

Minggu ini saya sedang kembali ke asrama di Cileunyi dan seperti biasa, saya melakukan shalat Jumat di masjid Al-Jawami yang merupakan masjid favorit bagi para mahasiswa kampus 3 UIN Bandung untuk shalat Jumat. Ketika sedang duduk sambil mendengarkan khutbah, saya memperhatikan kotak amal yang sedang berjalan, berpindah dari satu jamaah ke jamaah lain yang ada di tengah-tengah hingga akhirnya sampai kepada saya, lalu saya geser kotak tersebut ke jamaah yang ada di dekat saya. Jamaah tersebut membawa seorang anak kecil yang sepertinya merupakan anaknya. Kotak amal tersebut tidak digubris oleh sang ayah karena ia memejamkan mata sambil membaca dzikir. “Yah, ini kotak amalnya yah”, ujar si anak sambil menepuk paha ayahnya yang sedang khusyu berdizkir. Sang ayah pun membuka pejamannya sambil tersenyum dan segera merogoh kantong bajunya sambil mengeluarkan beberapa uang kertas recehan. "masukan semuanya nak!!" ucap sang ayah mengulurkan tangan memberikan sejumlah uang pada anaknya...

Mencari Ruang untuk Ibadah: Kritik terhadap Kurangnya Fasilitas di Ma'had Tahfidz

  Sholat Jama'ah dan tasmi di Ma'had Tahfidz UIN Sunan Gunung Djati adalah suatu keharusan yang tak terelakkan bagi mahasiswa-mahasiswa yang beruntung menjalani pendidikan di institusi tersebut. Sepertinya, sholat bukan hanya sekadar rutinitas, melainkan semacam aktivitas wajib yang dapat menentukan status keislaman seseorang. Menjalankannya secara berjamaah dianggap sebagai langkah monumental dalam menjaga solidaritas kaum muslimin. Namun, ironisnya, saat ini kami merasa seperti dalam drama "Pencarian Tempat Sholat dan tasmi’”. Ma'had Tahfidz UIN Sunan Gunung Djati, sebagai lembaga pendidikan yang fokus pada kajian Islam dan hafalan Al-Qur'an, tentu memiliki peran yang sangat penting dalam membimbing para mahasantri untuk menjalankan kewajiban agama mereka. Namun, kita tidak bisa menutup mata terhadap permasalahan yang muncul, terutama terkait minimnya ruang salat berjamaah. Keberadaan ruang salat berjamaah yang kurang memadai di Ma'had Tahfidz UIN Sunan...

Membakar Ayat Al-Quran itu tidak selamanya buruk

Aroma hangat kertas yang terbakar merayap di lorong asrama, memancing rasa penasaran di antara mahasiswa yang berlalu-lalang. Saya tidak tahan untuk tidak mengeksplorasi asal-usul bau itu. "Bau kertas kebakar euy," seru saya sambil melangkah ke lorong, mata mencari sumber bau. Kang Alif, teman seperjuangan, muncul dengan wajah cemas. "Eh, baunya masuk kamar ya? Duh maaf, maaf," ucapnya cepat sambil menoleh dan dengan terburu-buru keluar melalui jendela, mendarat dengan lincah di balkon asrama. Saya yang masih di dalam kamar, penasaran dengan tingkah kang Alif. "Lagi bakar apa kang?" tanya saya dari jendela, sambil melihatnya sibuk di balkon. "Ini kang, lagi bakar kertas euy. Ada tulisan Arabnya. Sebetulnya ini tugas kuliah yang lalu-lalu, tapi ada tulisan Arabnya. Saya ga rela jika tulisan ini harus berakhir di tempat sampah, di wastafel bahkan terinjak-injak," jelasnya sembari menunjukkan kertas yang dibakarnya. Jawaban kang Alif membe...