Langsung ke konten utama

Kediri oh Kediri, Part 1

Rabu, 25 September 2024, Saya bersama dengan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke Kediri. Kami pergi ke kediri dalam rangka menghadiri undangan pernikahan salah satu Mentor/Ustadzah MTA UIN Bandung, yaitu teh Makhyatul Fikriya yang akan menikah pada Sabtu 28 september. 

Awal Mula Perjalanan

Mula-mulanya berawal dari kang Nafi yang ngajak mentor-mentor untuk ikut serta ke Kediri buat kondangan. Tentu saja hal ini disambut baik oleh kami, khususnya saya yang kala itu memang sedang butuh healing alias jalan-jalan. lumayan, ada moment dan ada alasan buat keluar kota. apalagi dengan porsi budgeting yang relatif sangat murah. 

Kami termasuk yang beruntung sih, karena kami dapet tiket kereta kahuripan di harga 200k, dan itu sudah PP (Pulang pergi). biasanya tiket-tiket kereta apalagi kereta yang antar provinsi mahal-mahal. bisa menyentuh angka 600k an untuk yang eksekutif, namun kali ini rejeki lagi ada di pihak kami. wkwk

Malam itu juga, yang fiksasi langsung beli tiket, karena memang khawatir kehabisan lantaran war tiket. tapi, waktu itu yang ikut mendaftarkan diri baru anak putranya saja. anak putrinya masih belum ada yang daftar. singkat cerita ada beberapa anak putri juga yang ikut gabung trip ini dan total dari kami adalah 11 orang. Saya, Kang Nafi, Ilman, Raja, As'ad, Naufal, Tamreis, Halwa, Sarah, Imas, Hasna. mantap gak tuh kesebelasan tabung ijo. wkwk

Malam Keberangkatan

Rabu malam kamis, meskipun ada jadwal kuliah sampai maghrib, saya pulang dari kampus dengan penuh semangat, ya gimana ga semangat wong mau jalan-jalan kok. wkwk. begitupun dengan kawan-kawan peserta lainya. mereka pun bersemangat dan antusias. setelah shalat isya, langsung kita berkumpul di depan asrama putra, buat baca doa bareng dan atur kendaraan buat ke stasiun. 

Jadi, rute keberangkatannya itu, kita bakal dianter dulu dari asrama ke stasiun rancaekek pake motor. ada banyak banget motor yang berangkat buat anterin kita. abis itu, dari rancaekek kita naik kereta lokal 5k an ke stasiun kiaracondong. pas ke stasiun rancaekek sempet panik karena kereta udah mau berangkat, tapi temen kami hasna masih belum sampe stasiun karena yang nganter malah nyasar. wkwk


Potret Sebelum berangkat di Stasiun Kiara Condong


Kita tiba di stasiun kircon sekitar jam 21.50an, sebentar lagi kereta bakal berangkat. sekitar jam 22.15an kereta berangkat. sesuai prediksi kami, kereta penuh dengan penumpang. untungnya kami duduk di satu gerbong yang sama. bahkan yang cowok duduk di tempat yang sama, jadi selama perjalanan asik banget, ga terlalu boring, jenuh. justru seru dan banyak tawanya. obrolan hangat, lucu dan mengundang tawa menjadi teman perjalanan kami. meskipun sempit (ya, namanya juga kereta ekonomi), tapi perjalanan terasa asik dan ga boring. di kereta juga sempet ada orang agak laen. kayaknya dia tertarik dengan akhwat-akhwat rq yang spek yalil yalili banget ya kan. mereka agak sedikit terganggu, ga nyaman. tapi alhamdulillahnya dia turun lebih awal dari kami. wkwk ada ada aja

Makan dulu. Masak di asrama, makan di kereta

Nyenyaknyoooo


Hari Pertama

kami menempuh sekitar 13 jam perjalanan kereta. dan tiba di kediri sekitar jam 11 siangan sebelum dhuhur. langsung dijemput di stasiun sama sopir dari tuan rumah, kami dijemput menggunakan mobil Muslimat Nu, keren kan. ya iyalah masa ya iya dong. wkwk. setelah tiba, kami langsung shalat, ramah tamah dengan hidangan yang masyaallah rasanya masih nempel sampe sekarang. uenak poll. setelah itu, kami langsung istirahat.

temen-temen putri selama di kediri tinggal di yayasan kang nafi, adapun kami, tinggal di kediaman kang nafi. jaraknya ga terlalu jauh, jadi bisa bolak balik tanpa capek.

ga mau buang-buang waktu di kediri, setelah isi energi dengan tidur dan makan, malamnya langsung cus ke SLG (Simpang Lima Gumul) yang ada di kediri kota. tempatnya instagramable, jadi semacam monumen gitu. mirip sama Arc de Triomphe yang ada di Prancis. tapi sayangnya, kita telat dateng. kita dateng ke lokasi jam sembilan lebih dikit. dan jam sembilan, lampu-lampu yang ada di monumen sudah di matikan. meskipun di luar ekspektasi, tapi ternyata kita masih bisa berfoto-foto dengan ciamik di slg itu. mengabadikan momen dan udah bisa pamer di sg kalo kita sudah pernah ke kediri. wkkw

Momentum di SLG Kediri, cekrek manisnyooo
Setelah dari SLG kita lanjut dong ngopi-ngopi hangat di salah satu cafe bercorak budaya jawa dengan design arsitektur khas jawa yaitu joglo. kita ngopi, nyemil, ngobrol, bercengkarama, tertawa, dan membicarakan besok di hari kedua kita mau kemana yaa>??

LANJUT PART 2


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dermawannya Gusti Allah itu Ga Harus Follow Dulu Kayak Influencer Jaman Sekarang

Ahmad Muzayyin Dalam dunia digital yang kita hidupi sekarang, istilah influencer sudah begitu melekat dalam keseharian. Kita sering kali melihat bagaimana para influencer, selebriti, atau konten kreator menjanjikan berbagai giveaway dan bentuk-bentuk “kedermawanan” lainnya, tetapi ada syaratnya: follow dulu ya akun gue! Seolah-olah, rasa kedermawanan ini memiliki harga, dan harga itu adalah "klik" pada tombol follow. Ini lumrah di era modern di mana perhatian, engagement, dan angka followers adalah aset yang paling berharga. Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan lebih dalam: apakah benar bahwa segala bentuk pemberian dan kebaikan harus diikuti dengan pamrih? Haruskah kebaikan dibarter dengan perhatian atau popularitas? Jika kita amati lebih jauh, dunia digital ini mencerminkan pola pikir transaksional yang semakin berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk mendapatkan sesuatu, kita mesti “membayar” dengan sesuatu yang tak melulu uang, tapi bisa berupa perhatian...

Mengkritik Atasan: Jalan Pintas Menuju 'Dikucilkan (seni halus menuju kejauhan sosial)

Di ruang-ruang rapat organisasi, baik itu korporat besar, lembaga non-profit, hingga komunitas kecil, sering kita temui fenomena yang hampir seragam: hening yang meresahkan saat kesempatan memberi masukan terbuka. Alih-alih menjadi momen diskusi kritis dan konstruktif, forum-forum ini sering kali diwarnai oleh anggukan patuh, persetujuan semu, dan bisikan-bisikan yang terpendam. Mengapa anggota kerap merasa terkungkung untuk mengungkapkan ketidaksetujuan mereka terhadap atasan? Mengapa kritik yang seharusnya sehat dianggap racun yang memecah hubungan profesional? Fenomena ini, jika dibedah secara fenomenologis, menunjukkan bahwa rasa takut dan ketidaknyamanan untuk mengkritik atasan bukanlah hal sepele. Ketakutan ini berakar pada ancaman implisit—takut dimusuhi, dijauhi, dikucilkan, atau diperlakukan berbeda setelah menyuarakan pandangan yang tak sejalan dengan pemimpin. Bagaimana mungkin organisasi bisa berkembang jika anggotanya takut berkata jujur? Ini bukan sekadar masalah komunika...