Langsung ke konten utama

Dermawannya Gusti Allah itu Ga Harus Follow Dulu Kayak Influencer Jaman Sekarang

Ahmad Muzayyin

Dalam dunia digital yang kita hidupi sekarang, istilah influencer sudah begitu melekat dalam keseharian. Kita sering kali melihat bagaimana para influencer, selebriti, atau konten kreator menjanjikan berbagai giveaway dan bentuk-bentuk “kedermawanan” lainnya, tetapi ada syaratnya: follow dulu ya akun gue! Seolah-olah, rasa kedermawanan ini memiliki harga, dan harga itu adalah "klik" pada tombol follow. Ini lumrah di era modern di mana perhatian, engagement, dan angka followers adalah aset yang paling berharga.

Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan lebih dalam: apakah benar bahwa segala bentuk pemberian dan kebaikan harus diikuti dengan pamrih? Haruskah kebaikan dibarter dengan perhatian atau popularitas? Jika kita amati lebih jauh, dunia digital ini mencerminkan pola pikir transaksional yang semakin berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk mendapatkan sesuatu, kita mesti “membayar” dengan sesuatu yang tak melulu uang, tapi bisa berupa perhatian, likes, atau followers.

Namun, di balik hiruk-pikuk digital ini, ada satu konsep besar yang layak kita renungkan, yakni kedermawanan Allah. Derma Gusti Allah—itu gratis dan tak bersyarat! Tidak ada syarat follow dulu, subscribe channel, atau retweet supaya bisa mendapatkan karunia-Nya. Jika kita coba bandingkan dengan fenomena influencer jaman sekarang, perbedaan itu sangat mencolok.

Kedermawanan Ilahi: Gratis dan Tak Bersyarat

Kedermawanan Allah dalam Islam sering disebut rahmat—sesuatu yang merangkul seluruh alam semesta, tanpa terkecuali. Dalam beberapa ayat Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa Dia adalah Maha Kaya (Al-Ghaniyy) dan tidak membutuhkan sesuatu dari makhluk-Nya. Seperti yang sering kita dengar dalam doa: Allah memberi tanpa mengharap balasan, bahkan tanpa kita minta sekalipun.

Konsep kedermawanan Allah ini menantang banyak teori sosial modern tentang pemberian. Dalam dunia manusia, bahkan dalam teori-teori seperti reciprocity atau timbal balik sosial, selalu ada ekspektasi bahwa pemberian yang kita berikan akan menghasilkan sesuatu kembali, entah itu dalam bentuk materi, pengaruh, atau sekedar rasa terima kasih. Namun, dalam hubungan manusia dengan Tuhan, Allah memberi tanpa harapan apa pun kembali dari hamba-Nya. Dalam Surat Ibrahim [14:34], Allah berfirman: "Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu minta kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya."

Kedermawanan vs. Kebutuhan Pengakuan

Jika kita telaah lebih jauh, kedermawanan Allah ini juga mengajarkan tentang perbedaan mendasar antara memberi karena kasih sayang dan memberi karena mencari pengakuan. Influencer modern, misalnya, memberikan sesuatu untuk mendapatkan exposure, angka, atau popularitas. Mereka membutuhkan pengakuan dan apresiasi dari orang lain agar tetap relevan dan berharga di dunia maya. Sedangkan Allah memberi karena cinta-Nya kepada makhluk-Nya, tanpa butuh pengakuan dari siapa pun. Bahkan mereka yang tak mengenal-Nya, tak mengakui keberadaan-Nya, tetap merasakan kedermawanan-Nya.

Fenomena ini menjadi cermin bagi kita. Saat kita melakukan sesuatu bagi orang lain, apakah kita benar-benar ikhlas? Apakah kita memberi karena ingin dilihat sebagai “baik” atau “dermawan”? Apakah kita menunggu balasan pujian atau penghargaan? Jika kita jujur, sering kali ada kebutuhan untuk diakui dan dipuji yang menyertai tindakan kebaikan kita. Berbeda dengan Allah yang Maha Dermawan, yang tak memerlukan pamrih dalam memberi.

Mengapa Tidak Meniru Kedermawanan Allah?

Dalam kajian ini, saya jadi teringat tentang bagaimana kehidupan sehari-hari kita sudah begitu sarat dengan transaksi sosial. Bahkan kebaikan pun kerap dikapitalisasi. Tetapi mengapa kita tidak belajar dari dermawan terbesar, yaitu Allah sendiri? Belajar untuk memberi tanpa mengharapkan balasan, memberi dengan tulus, tanpa pamrih, tanpa kebutuhan untuk mendapat pengakuan.

Ini adalah tantangan besar, tetapi satu langkah kecil untuk mendekatkan diri kita pada nilai-nilai yang lebih luhur. Mungkin kita tak perlu menjadi dermawan yang tak terbatas layaknya Allah, tetapi setidaknya kita bisa mulai belajar untuk memberi tanpa syarat-syarat sosial yang mengikat.
Dalam hal ini, Allah mencontohkan kedermawanan tanpa harus menuntut imbal balik. Ini pelajaran penting, bahwa manusia bisa berbuat baik tanpa harus ‘meminta follow’ atau ekspektasi pamrih, baik secara materi maupun pengakuan sosial.

Kesimpulan

Di era digital ini, kita dihadapkan pada budaya memberi yang sarat akan pamrih, yang bahkan mengharuskan kita 'follow dulu' sebelum mendapatkan sesuatu. Tapi Allah mengajarkan kita konsep yang sangat berbeda: memberi dengan cinta tanpa pamrih. Derma-Nya tak membutuhkan klik, like, atau follow. Semoga kita bisa belajar dari kedermawanan Allah ini, dan mencoba untuk meniru-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari, bahkan jika itu berarti mulai dari langkah-langkah kecil untuk berbuat baik tanpa harapan balasan.

Derma Allah adalah bukti bahwa kebaikan sejati tak butuh pengakuan. Yuk, coba berbuat baik tanpa perlu pamrih, karena pada akhirnya, itu yang mendekatkan kita pada hakikat kebaikan yang sebenarnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kediri oh Kediri, Part 1

Rabu, 25 September 2024, Saya bersama dengan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke Kediri. Kami pergi ke kediri dalam rangka menghadiri undangan pernikahan salah satu Mentor/Ustadzah MTA UIN Bandung, yaitu teh Makhyatul Fikriya yang akan menikah pada Sabtu 28 september.  Awal Mula Perjalanan Mula-mulanya berawal dari kang Nafi yang ngajak mentor-mentor untuk ikut serta ke Kediri buat kondangan. Tentu saja hal ini disambut baik oleh kami, khususnya saya yang kala itu memang sedang butuh healing alias jalan-jalan. lumayan, ada moment dan ada alasan buat keluar kota. apalagi dengan porsi budgeting yang relatif sangat murah.  Kami termasuk yang beruntung sih, karena kami dapet tiket kereta kahuripan di harga 200k, dan itu sudah PP (Pulang pergi). biasanya tiket-tiket kereta apalagi kereta yang antar provinsi mahal-mahal. bisa menyentuh angka 600k an untuk yang eksekutif, namun kali ini rejeki lagi ada di pihak kami. wkwk Malam itu juga, yang fiksasi langsung beli tiket, kare...

Mengkritik Atasan: Jalan Pintas Menuju 'Dikucilkan (seni halus menuju kejauhan sosial)

Di ruang-ruang rapat organisasi, baik itu korporat besar, lembaga non-profit, hingga komunitas kecil, sering kita temui fenomena yang hampir seragam: hening yang meresahkan saat kesempatan memberi masukan terbuka. Alih-alih menjadi momen diskusi kritis dan konstruktif, forum-forum ini sering kali diwarnai oleh anggukan patuh, persetujuan semu, dan bisikan-bisikan yang terpendam. Mengapa anggota kerap merasa terkungkung untuk mengungkapkan ketidaksetujuan mereka terhadap atasan? Mengapa kritik yang seharusnya sehat dianggap racun yang memecah hubungan profesional? Fenomena ini, jika dibedah secara fenomenologis, menunjukkan bahwa rasa takut dan ketidaknyamanan untuk mengkritik atasan bukanlah hal sepele. Ketakutan ini berakar pada ancaman implisit—takut dimusuhi, dijauhi, dikucilkan, atau diperlakukan berbeda setelah menyuarakan pandangan yang tak sejalan dengan pemimpin. Bagaimana mungkin organisasi bisa berkembang jika anggotanya takut berkata jujur? Ini bukan sekadar masalah komunika...