Langsung ke konten utama

Membakar Ayat Al-Quran itu tidak selamanya buruk


Aroma hangat kertas yang terbakar merayap di lorong asrama, memancing rasa penasaran di antara mahasiswa yang berlalu-lalang. Saya tidak tahan untuk tidak mengeksplorasi asal-usul bau itu.

"Bau kertas kebakar euy," seru saya sambil melangkah ke lorong, mata mencari sumber bau. Kang Alif, teman seperjuangan, muncul dengan wajah cemas.

"Eh, baunya masuk kamar ya? Duh maaf, maaf," ucapnya cepat sambil menoleh dan dengan terburu-buru keluar melalui jendela, mendarat dengan lincah di balkon asrama. Saya yang masih di dalam kamar, penasaran dengan tingkah kang Alif.

"Lagi bakar apa kang?" tanya saya dari jendela, sambil melihatnya sibuk di balkon.

"Ini kang, lagi bakar kertas euy. Ada tulisan Arabnya. Sebetulnya ini tugas kuliah yang lalu-lalu, tapi ada tulisan Arabnya. Saya ga rela jika tulisan ini harus berakhir di tempat sampah, di wastafel bahkan terinjak-injak," jelasnya sembari menunjukkan kertas yang dibakarnya.

Jawaban kang Alif memberi saya kilas balik pada kisah-kisah inspiratif dari para ulama dalam menghormati ajaran Allah, terutama Al-Quran. Sebuah pelajaran berharga tentang ta’zhim terhadap syiar Allah yang bisa membawa keberkahan luar biasa.

Pencerahan datang dalam bentuk kisah Osman Gazi, pendiri Kerajaan Ottoman. Kisahnya memaparkan bagaimana Osman Gazi meraih keberkahan melalui ta’zhim terhadap Al-Quran. Suatu malam, dalam rumah gurunya, di hadapan mushaf Al-Quran, Osman Gazi menunjukkan rasa hormat yang begitu mendalam. Ia bahkan tidak berani tidur, terus beribadah hingga pagi.

Keberkahan Allah pun mengalir dalam bentuk kerajaan Ottoman yang berdiri selama 6,5 abad, seiring dengan durasi waktu ketika Osman Gazi berada dalam kamar tersebut, tepatnya 6,5 jam.

Pesan moral yang dapat diambil dari cerita ini adalah bahwa ketika kita menghormati dan mengagungkan syiar Allah, Allah akan mengangkat derajat kita setinggi-tingginya. Sebuah pelajaran hidup yang mencerahkan, diantaranya melalui aroma kertas yang terbakar, mengajak kita untuk merenung dan meningkatkan kehormatan terhadap nilai-nilai agama dalam setiap aspek kehidupan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kediri oh Kediri, Part 1

Rabu, 25 September 2024, Saya bersama dengan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke Kediri. Kami pergi ke kediri dalam rangka menghadiri undangan pernikahan salah satu Mentor/Ustadzah MTA UIN Bandung, yaitu teh Makhyatul Fikriya yang akan menikah pada Sabtu 28 september.  Awal Mula Perjalanan Mula-mulanya berawal dari kang Nafi yang ngajak mentor-mentor untuk ikut serta ke Kediri buat kondangan. Tentu saja hal ini disambut baik oleh kami, khususnya saya yang kala itu memang sedang butuh healing alias jalan-jalan. lumayan, ada moment dan ada alasan buat keluar kota. apalagi dengan porsi budgeting yang relatif sangat murah.  Kami termasuk yang beruntung sih, karena kami dapet tiket kereta kahuripan di harga 200k, dan itu sudah PP (Pulang pergi). biasanya tiket-tiket kereta apalagi kereta yang antar provinsi mahal-mahal. bisa menyentuh angka 600k an untuk yang eksekutif, namun kali ini rejeki lagi ada di pihak kami. wkwk Malam itu juga, yang fiksasi langsung beli tiket, kare...

Dermawannya Gusti Allah itu Ga Harus Follow Dulu Kayak Influencer Jaman Sekarang

Ahmad Muzayyin Dalam dunia digital yang kita hidupi sekarang, istilah influencer sudah begitu melekat dalam keseharian. Kita sering kali melihat bagaimana para influencer, selebriti, atau konten kreator menjanjikan berbagai giveaway dan bentuk-bentuk “kedermawanan” lainnya, tetapi ada syaratnya: follow dulu ya akun gue! Seolah-olah, rasa kedermawanan ini memiliki harga, dan harga itu adalah "klik" pada tombol follow. Ini lumrah di era modern di mana perhatian, engagement, dan angka followers adalah aset yang paling berharga. Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan lebih dalam: apakah benar bahwa segala bentuk pemberian dan kebaikan harus diikuti dengan pamrih? Haruskah kebaikan dibarter dengan perhatian atau popularitas? Jika kita amati lebih jauh, dunia digital ini mencerminkan pola pikir transaksional yang semakin berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk mendapatkan sesuatu, kita mesti “membayar” dengan sesuatu yang tak melulu uang, tapi bisa berupa perhatian...

Mengkritik Atasan: Jalan Pintas Menuju 'Dikucilkan (seni halus menuju kejauhan sosial)

Di ruang-ruang rapat organisasi, baik itu korporat besar, lembaga non-profit, hingga komunitas kecil, sering kita temui fenomena yang hampir seragam: hening yang meresahkan saat kesempatan memberi masukan terbuka. Alih-alih menjadi momen diskusi kritis dan konstruktif, forum-forum ini sering kali diwarnai oleh anggukan patuh, persetujuan semu, dan bisikan-bisikan yang terpendam. Mengapa anggota kerap merasa terkungkung untuk mengungkapkan ketidaksetujuan mereka terhadap atasan? Mengapa kritik yang seharusnya sehat dianggap racun yang memecah hubungan profesional? Fenomena ini, jika dibedah secara fenomenologis, menunjukkan bahwa rasa takut dan ketidaknyamanan untuk mengkritik atasan bukanlah hal sepele. Ketakutan ini berakar pada ancaman implisit—takut dimusuhi, dijauhi, dikucilkan, atau diperlakukan berbeda setelah menyuarakan pandangan yang tak sejalan dengan pemimpin. Bagaimana mungkin organisasi bisa berkembang jika anggotanya takut berkata jujur? Ini bukan sekadar masalah komunika...