Langsung ke konten utama

Mencari Ruang untuk Ibadah: Kritik terhadap Kurangnya Fasilitas di Ma'had Tahfidz

 



Sholat Jama'ah dan tasmi di Ma'had Tahfidz UIN Sunan Gunung Djati adalah suatu keharusan yang tak terelakkan bagi mahasiswa-mahasiswa yang beruntung menjalani pendidikan di institusi tersebut. Sepertinya, sholat bukan hanya sekadar rutinitas, melainkan semacam aktivitas wajib yang dapat menentukan status keislaman seseorang. Menjalankannya secara berjamaah dianggap sebagai langkah monumental dalam menjaga solidaritas kaum muslimin. Namun, ironisnya, saat ini kami merasa seperti dalam drama "Pencarian Tempat Sholat dan tasmi’”.

Ma'had Tahfidz UIN Sunan Gunung Djati, sebagai lembaga pendidikan yang fokus pada kajian Islam dan hafalan Al-Qur'an, tentu memiliki peran yang sangat penting dalam membimbing para mahasantri untuk menjalankan kewajiban agama mereka. Namun, kita tidak bisa menutup mata terhadap permasalahan yang muncul, terutama terkait minimnya ruang salat berjamaah.

Keberadaan ruang salat berjamaah yang kurang memadai di Ma'had Tahfidz UIN Sunan Gunung Djati menjadi suatu keprihatinan yang serius. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai sejauh mana lembaga ini dapat memenuhi tujuannya sebagai pusat pembelajaran Islam di lingkungan kampus UIN Bandung. Salat berjamaah bukan hanya sekadar rutinitas ibadah, melainkan juga mencerminkan komitmen lembaga terhadap nilai-nilai keagamaan.

Faktanya, ketidakmampuan lembaga menyediakan ruang yang layak untuk salat berjamaah menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap komitmen lembaga dalam menjaga praktik dan nilai-nilai keagamaan. Salat berjamaah bukan hanya ritual ibadah, tetapi juga merupakan aspek penting dalam ibadah Islam yang seharusnya didukung oleh fasilitas yang memadai.

Gedung moderasi yang tadinya kami gunakan untuk sholat berjamaah dan tasmi telah dialih fungsikan untuk keperluan lain, sehingga kami terpaksa pindah ke gedung lain yang juga akhirnya tidak bisa digunakan karena akan diisi dengan fasilitas asrama. Kami sebagai mahasantri merasa kebingungan dan kehilangan tempat untuk menjalankan aktivitas ibadah kami.

Kami sebagai mahasantri merasa seperti pion-pion dalam papan catur yang tidak tahu arah. Tanpa tempat khusus untuk menjalankan sholat berjamaah dan tasmi, rasanya ibadah kami dan program tasmi kami menjadi terombang-ambing seperti kapal tanpa nahkoda. Semua ini berdampak pada kualitas pendidikan agama kami. Seolah-olah, institusi ini lupa bahwa sholat berjamaah dan tasmi bukan sekadar tugas tambahan, tetapi fondasi dari 'rumah' kami di Ma'had Tahfidz.

Apakah mungkin Ma'had Tahfidz UIN Sunan Gunung Djati mengalami amnesia? Sepertinya, identitas sebagai lembaga yang mengedepankan pendalaman ilmu agama terlihat semakin kabur. Sangat memalukan jika Ma'had Tahfidz UIN Sunan Gunung Djati kehilangan identitasnya sebagai lembaga pendidikan yang memberikan perhatian khusus terhadap pendalaman ilmu agama. Apakah semua ini hanya untuk menciptakan citra belaka? Bukankah kewajiban lembaga pendidikan untuk memberikan fasilitas yang memadai bagi siswanya untuk menjalankan ibadah dan menyalurkan minatnya dalam mempelajari agama?

Dalam kehidupan sehari-hari, kami butuh tempat, bukan hanya untuk beristirahat, tapi juga untuk sholat dan tasmi'. Seiring berjalannya waktu, kami mungkin perlu mempertanyakan apakah Ma'had Tahfidz UIN Sunan Gunung Djati benar-benar tempat fokus belajar hafalan Al-Qur'an atau hanya sekadar panggung untuk pencitraan. Kami berharap agar pihak berwenang menyadari bahwa ini bukanlah persoalan biasa. Kami butuh solusi yang tidak hanya berupa kata-kata manis, tetapi juga fasilitas yang nyata.

Semoga Ma'had Tahfidz UIN Sunan Gunung Djati tidak terperosok ke dalam peran lembaga pendidikan yang hanya mementingkan citra. Seharusnya, lembaga pendidikan memberikan fasilitas yang layak bagi para pelajarnya untuk menjalankan ibadah dan mengejar ketenangan spiritual.

Kepada pihak terkait, kami berharap anda dapat menemukan jawaban yang tepat untuk permasalahan ini. Jangan sampai Ma'had Tahfidz kehilangan jejak sebagai lembaga yang memberikan perhatian khusus kepada para mahasiswanya. Semoga kebijaksanaan dan solusi yang tepat segera ditemukan agar kami dapat kembali menjalankan aktivitas agama dengan khusyuk dan tanpa harus berpindah-pindah tempat.

 

 

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My KKP My Adventure: Air Terjun Tiu Kelep - Senaru, Bayan, Lombok Utara

 Minggu, 27 Juli 2025 Saya dan kawan-kawan posko KKP Lombok seperjuangan saya berencana healing. ya, betul sekali.. jalan-jalan. jalan-jalan kali ini berbeda dengan jalan-jalan sebelumnya yang terkesan dadakan. kali ini healingnya diagendakan bersama dan tanpa terkecuali semua anggota KKP ikut. kami berencana pergi ke suatu tempat nan indah di ujung KLU (Kabupaten Lombok Utara), tepatnya di kecamatan Bayan. di sana ada desa wisata yaitu Senaru. Senaru merupakan salah satu desa wisata di lombok utara yang terletak di kaki gunung Rinjani. Senaru juga merupakan salah satu jalur pendakian menuju gunung Rinjani tapi melalui jalur lombok utara. Kami berangkat pagi-pagi sekitar jam 9 bersama 14 anggota KKP. satu teman saya, Thoriq, dia menyusul lantaran motornya sedang dalam perjalanan karena sedang rusak. kondisi cuaca pada hari tersebut sangatlah cerah. tidak terlalu terik dan juga tidak terlalu gelap. kami berangkat dari posko kami yang terletak di desa Menggala, Kecamatan Pamenang, Se...

Kediri oh Kediri, Part 1

Rabu, 25 September 2024, Saya bersama dengan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke Kediri. Kami pergi ke kediri dalam rangka menghadiri undangan pernikahan salah satu Mentor/Ustadzah MTA UIN Bandung, yaitu teh Makhyatul Fikriya yang akan menikah pada Sabtu 28 september.  Awal Mula Perjalanan Mula-mulanya berawal dari kang Nafi yang ngajak mentor-mentor untuk ikut serta ke Kediri buat kondangan. Tentu saja hal ini disambut baik oleh kami, khususnya saya yang kala itu memang sedang butuh healing alias jalan-jalan. lumayan, ada moment dan ada alasan buat keluar kota. apalagi dengan porsi budgeting yang relatif sangat murah.  Kami termasuk yang beruntung sih, karena kami dapet tiket kereta kahuripan di harga 200k, dan itu sudah PP (Pulang pergi). biasanya tiket-tiket kereta apalagi kereta yang antar provinsi mahal-mahal. bisa menyentuh angka 600k an untuk yang eksekutif, namun kali ini rejeki lagi ada di pihak kami. wkwk Malam itu juga, yang fiksasi langsung beli tiket, kare...

Review Mie Gacoan Ujung Berung: Mie Enak dengan Suasana yang Cozy

Foto taken by: Abdul Bari  Ada sensasi yang berbeda ketika makan bersama teman-teman, apalagi jika makanannya adalah mie goreng yang enak dan disajikan dengan topping yang unik. Itulah yang kami rasakan saat berkunjung ke Mie Gacoan Ujung Berung bersama 5 teman kelas, dan yang membuat pengalaman ini semakin berkesan adalah karena salah satu teman kami yang mengajak makan kali ini rela menraktir kami semua. Inilah kisah seru kami saat menikmati hidangan lezat di Mie Gacoan Ujung Berung. Menurut pengalaman saya, makan di Mie Gacoan Ujung Berung merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan dan tak terlupakan. Pertama-tama, tempat ini memiliki dekorasi yang kekinian dan instagramable, sehingga membuat suasana menjadi lebih menyenangkan. Selain itu, suasana yang cozy dan santai juga cocok untuk nongkrong dan ngobrol santai bersama teman-teman. Tentunya, tidak hanya suasana saja yang membuat pengalaman makan di Mie Gacoan Ujung Berung menjadi menyenangkan. Setiap jenis mie di sini memil...