Langsung ke konten utama

Rihlah Perdana Ma'had Tahfidz UIN Bandung: Antara Kebersamaan dan Kenangan Manis


Kloter motor sebelum keberangkatan

Akhir tahun ini, para mahasantri Ma'had Tahfidz UIN Bandung benar-benar beruntung. Untuk pertama kalinya, mereka mengadakan rihlah (perjalanan) yang menjadi agenda penutup tahunan. Rihlah perdana ini digelar di Pangalengan Bandung selama dua hari satu malam. Seperti yang bisa diduga, kegiatan ini penuh keseruan dan makna.

Rihlah ini bukan sekadar perjalanan biasa. Pagi-pagi sekitar pukul 7, para mahasantri sudah siap dengan dua komando keberangkatan: satu kelompok naik 2 mobil ranger TNI dan satu lagi naik motor dalam tiga kloter. Antusiasme terlihat jelas dari wajah-wajah mereka sejak awal keberangkatan.

Sesampainya di Pangalengan, acara resmi dibuka oleh Direktur KH. Dr. Asep Mustofa Kamal, M.Ag., yang memberikan sambutan penuh semangat. Setelah itu, panitia sudah menyiapkan berbagai macam perlombaan untuk meramaikan hari pertama. Tapi, rencana manusia tetap saja kalah sama cuaca. Hujan turun tanpa kompromi, sehingga hanya satu lomba yang terlaksana. Meski begitu, semangat para mahasantri tidak luntur.

Di malam hari, suasana semakin khusyuk dengan pembacaan khotmil Quran bersama-sama. Ini adalah momen di mana kebersamaan terasa sangat erat, seolah-olah mereka berada dalam satu lingkaran yang saling menguatkan. Pemberian hadiah kepada para santri pilihan menjadi puncak kegembiraan di hari pertama yang ditutup dengan berbagai penampilan menarik dari masing-masing angkatan.

Hari kedua dimulai dengan senam pagi. Setelah itu, aktivitas arung jeram yang penuh adrenalin menjadi salah satu kegiatan utama. Para mahasantri terlihat begitu menikmati pengalaman seru ini. Tidak berhenti sampai di situ, sebagian dari mereka juga mencoba flying fox, merasakan sensasi meluncur di atas ketinggian yang memacu adrenalin.

Rihlah ini lebih dari sekadar perjalanan atau kegiatan rekreasi. Ini adalah wujud nyata dari upaya membangun kebersamaan dan menciptakan kenangan yang akan terus diingat oleh para mahasantri. Kebersamaan yang terjalin di sini akan menjadi fondasi kuat bagi mereka ketika kembali ke rutinitas sehari-hari. Rihlah ini juga menjadi pengingat bahwa dalam menjalani kehidupan akademik dan spiritual, penting untuk selalu menyempatkan waktu untuk saling berinteraksi dan mempererat hubungan antar sesama.

Namun, di balik keseruan dan kebersamaan ini, ada refleksi yang perlu kita renungkan. Di tengah maraknya aktivitas dan fasilitas modern, sering kali kita lupa akan pentingnya kebersamaan dan interaksi langsung. Generasi muda sekarang lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget, media sosial, dan kegiatan virtual lainnya. Rihlah seperti ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan fisik, interaksi tatap muka, dan pengalaman bersama jauh lebih berharga dan memiliki dampak yang mendalam terhadap perkembangan karakter dan mental.

Tak bisa dipungkiri, kegiatan seperti ini sangat penting dalam kehidupan mahasantri. Di tengah rutinitas hafalan dan kegiatan akademik yang padat, mereka membutuhkan momen untuk melepaskan penat dan mempererat tali persaudaraan. Para mahasantri tidak hanya antusias mengikuti rangkaian acara, tetapi juga menunjukkan semangat yang tinggi sejak keberangkatan hingga kepulangan. Panitia yang dinakhodai Kang Tamreis pun patut diacungi jempol karena kesigapan mereka dalam mengatur dan memastikan acara berjalan dengan lancar meskipun menghadapi kendala cuaca.

Kita semua tahu bahwa masa-masa di ma'had adalah salah satu momen terpenting dalam hidup seorang mahasantri. Di sini mereka tidak hanya belajar dan menghafal Quran, tetapi juga membentuk karakter dan membangun hubungan yang akan menjadi bagian penting dari perjalanan hidup mereka. Rihlah perdana ini, dengan segala keceriaan dan kebersamaan yang ada, telah memberikan pengalaman berharga yang tak akan terlupakan.

Semoga ke depannya, kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan dan menjadi tradisi yang membawa manfaat besar bagi seluruh mahasantri. Karena pada akhirnya, kebersamaan dan kenangan manis adalah salah satu hal terpenting yang akan mereka bawa keluar dari ma'had ini, selain ilmu yang telah mereka pelajari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kediri oh Kediri, Part 1

Rabu, 25 September 2024, Saya bersama dengan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke Kediri. Kami pergi ke kediri dalam rangka menghadiri undangan pernikahan salah satu Mentor/Ustadzah MTA UIN Bandung, yaitu teh Makhyatul Fikriya yang akan menikah pada Sabtu 28 september.  Awal Mula Perjalanan Mula-mulanya berawal dari kang Nafi yang ngajak mentor-mentor untuk ikut serta ke Kediri buat kondangan. Tentu saja hal ini disambut baik oleh kami, khususnya saya yang kala itu memang sedang butuh healing alias jalan-jalan. lumayan, ada moment dan ada alasan buat keluar kota. apalagi dengan porsi budgeting yang relatif sangat murah.  Kami termasuk yang beruntung sih, karena kami dapet tiket kereta kahuripan di harga 200k, dan itu sudah PP (Pulang pergi). biasanya tiket-tiket kereta apalagi kereta yang antar provinsi mahal-mahal. bisa menyentuh angka 600k an untuk yang eksekutif, namun kali ini rejeki lagi ada di pihak kami. wkwk Malam itu juga, yang fiksasi langsung beli tiket, kare...

Dermawannya Gusti Allah itu Ga Harus Follow Dulu Kayak Influencer Jaman Sekarang

Ahmad Muzayyin Dalam dunia digital yang kita hidupi sekarang, istilah influencer sudah begitu melekat dalam keseharian. Kita sering kali melihat bagaimana para influencer, selebriti, atau konten kreator menjanjikan berbagai giveaway dan bentuk-bentuk “kedermawanan” lainnya, tetapi ada syaratnya: follow dulu ya akun gue! Seolah-olah, rasa kedermawanan ini memiliki harga, dan harga itu adalah "klik" pada tombol follow. Ini lumrah di era modern di mana perhatian, engagement, dan angka followers adalah aset yang paling berharga. Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan lebih dalam: apakah benar bahwa segala bentuk pemberian dan kebaikan harus diikuti dengan pamrih? Haruskah kebaikan dibarter dengan perhatian atau popularitas? Jika kita amati lebih jauh, dunia digital ini mencerminkan pola pikir transaksional yang semakin berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk mendapatkan sesuatu, kita mesti “membayar” dengan sesuatu yang tak melulu uang, tapi bisa berupa perhatian...

Mengkritik Atasan: Jalan Pintas Menuju 'Dikucilkan (seni halus menuju kejauhan sosial)

Di ruang-ruang rapat organisasi, baik itu korporat besar, lembaga non-profit, hingga komunitas kecil, sering kita temui fenomena yang hampir seragam: hening yang meresahkan saat kesempatan memberi masukan terbuka. Alih-alih menjadi momen diskusi kritis dan konstruktif, forum-forum ini sering kali diwarnai oleh anggukan patuh, persetujuan semu, dan bisikan-bisikan yang terpendam. Mengapa anggota kerap merasa terkungkung untuk mengungkapkan ketidaksetujuan mereka terhadap atasan? Mengapa kritik yang seharusnya sehat dianggap racun yang memecah hubungan profesional? Fenomena ini, jika dibedah secara fenomenologis, menunjukkan bahwa rasa takut dan ketidaknyamanan untuk mengkritik atasan bukanlah hal sepele. Ketakutan ini berakar pada ancaman implisit—takut dimusuhi, dijauhi, dikucilkan, atau diperlakukan berbeda setelah menyuarakan pandangan yang tak sejalan dengan pemimpin. Bagaimana mungkin organisasi bisa berkembang jika anggotanya takut berkata jujur? Ini bukan sekadar masalah komunika...