Langsung ke konten utama

My KKP My Adventure: Air Terjun Tiu Kelep - Senaru, Bayan, Lombok Utara

 Minggu, 27 Juli 2025

Saya dan kawan-kawan posko KKP Lombok seperjuangan saya berencana healing. ya, betul sekali.. jalan-jalan.

jalan-jalan kali ini berbeda dengan jalan-jalan sebelumnya yang terkesan dadakan. kali ini healingnya diagendakan bersama dan tanpa terkecuali semua anggota KKP ikut. kami berencana pergi ke suatu tempat nan indah di ujung KLU (Kabupaten Lombok Utara), tepatnya di kecamatan Bayan. di sana ada desa wisata yaitu Senaru.

Senaru merupakan salah satu desa wisata di lombok utara yang terletak di kaki gunung Rinjani. Senaru juga merupakan salah satu jalur pendakian menuju gunung Rinjani tapi melalui jalur lombok utara.

Kami berangkat pagi-pagi sekitar jam 9 bersama 14 anggota KKP. satu teman saya, Thoriq, dia menyusul lantaran motornya sedang dalam perjalanan karena sedang rusak. kondisi cuaca pada hari tersebut sangatlah cerah. tidak terlalu terik dan juga tidak terlalu gelap. kami berangkat dari posko kami yang terletak di desa Menggala, Kecamatan Pamenang,

Seru gak? seru dong. perjalanan touring kami menempuh waktu sekitar satu jam setengah melalui jalur utara lombok. yaitu jalan Pamenang-Bayan. kami disuguhkan pemandangan yang tak sekedar indah, namun membuat kami takjub akan keasriannya. sebelah kiri kami ada laut, dan sebelah kanan kami ada pegunungan.

Tujuan utama kami adalah Tiu Kelep. air terjun super indah yang terletak di desa Senaru. kami sampai di lokasi sekitar pukul 11.00. sedikit terlambat dari perkiraan gmaps karena sempat melakukan pemberhentian. 

 Setelah kami tiba, kami langsung melakukan tracking, berjalan cukup jauh menyusuri kawasan hutan yang ada di sana untuk sampai ke air terjun tiu kelep. jalanannya tidak terlalu ekstrim, karena memang kawasan wisata. Tangga naik turun sudah ada, dan beberapa kali kita akan berjalan menyusuri sungai, dan juga jalan setapak. 






Setengah perjalanan, kami bertemu dengan air terjun sendang gile. banyak turis, banyak pengunjung. mereka semua dibuat terkagum dengan keindahan alam Senaru. kami lanjut berjalan karena tujuan utama kami adalah tiu kelep. perjalanan masih jauh. sepanjang jalan, kicauan burung menemani perjalanan kami. turis dan wisatawan lokal lalu lalang memadati lokasi.

Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, akhirnya kami sampai juga di Tiu Kelep. air terjun luar biasa indah yang terletak di kaki Rinjani. aliran airnya berasal dari danau segara anak yang terletak di rinjani. suasananya sangatlah dingin, airnya benar-benar bersih. tidak bisa digambarkan dengan kata-kata bagaimana rasanya berada di sana. senang, takjub, bahagia dan penuh semangat. area air terjun pun terjaga dan bersih, sehingga wisatawan yang datang pun merasa nyaman berkunjung ke sana. 



Harapan kami, semoga tempat-tempat wisata alam seperti ini selalu lestari dan terbebas dari tangan-tangan oknum yang tidak bertanggung jawab. kami bangga dengan keindahan alam Indonesia. lestari Indonesiaku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kediri oh Kediri, Part 1

Rabu, 25 September 2024, Saya bersama dengan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke Kediri. Kami pergi ke kediri dalam rangka menghadiri undangan pernikahan salah satu Mentor/Ustadzah MTA UIN Bandung, yaitu teh Makhyatul Fikriya yang akan menikah pada Sabtu 28 september.  Awal Mula Perjalanan Mula-mulanya berawal dari kang Nafi yang ngajak mentor-mentor untuk ikut serta ke Kediri buat kondangan. Tentu saja hal ini disambut baik oleh kami, khususnya saya yang kala itu memang sedang butuh healing alias jalan-jalan. lumayan, ada moment dan ada alasan buat keluar kota. apalagi dengan porsi budgeting yang relatif sangat murah.  Kami termasuk yang beruntung sih, karena kami dapet tiket kereta kahuripan di harga 200k, dan itu sudah PP (Pulang pergi). biasanya tiket-tiket kereta apalagi kereta yang antar provinsi mahal-mahal. bisa menyentuh angka 600k an untuk yang eksekutif, namun kali ini rejeki lagi ada di pihak kami. wkwk Malam itu juga, yang fiksasi langsung beli tiket, kare...

Dermawannya Gusti Allah itu Ga Harus Follow Dulu Kayak Influencer Jaman Sekarang

Ahmad Muzayyin Dalam dunia digital yang kita hidupi sekarang, istilah influencer sudah begitu melekat dalam keseharian. Kita sering kali melihat bagaimana para influencer, selebriti, atau konten kreator menjanjikan berbagai giveaway dan bentuk-bentuk “kedermawanan” lainnya, tetapi ada syaratnya: follow dulu ya akun gue! Seolah-olah, rasa kedermawanan ini memiliki harga, dan harga itu adalah "klik" pada tombol follow. Ini lumrah di era modern di mana perhatian, engagement, dan angka followers adalah aset yang paling berharga. Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan lebih dalam: apakah benar bahwa segala bentuk pemberian dan kebaikan harus diikuti dengan pamrih? Haruskah kebaikan dibarter dengan perhatian atau popularitas? Jika kita amati lebih jauh, dunia digital ini mencerminkan pola pikir transaksional yang semakin berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk mendapatkan sesuatu, kita mesti “membayar” dengan sesuatu yang tak melulu uang, tapi bisa berupa perhatian...

Mengkritik Atasan: Jalan Pintas Menuju 'Dikucilkan (seni halus menuju kejauhan sosial)

Di ruang-ruang rapat organisasi, baik itu korporat besar, lembaga non-profit, hingga komunitas kecil, sering kita temui fenomena yang hampir seragam: hening yang meresahkan saat kesempatan memberi masukan terbuka. Alih-alih menjadi momen diskusi kritis dan konstruktif, forum-forum ini sering kali diwarnai oleh anggukan patuh, persetujuan semu, dan bisikan-bisikan yang terpendam. Mengapa anggota kerap merasa terkungkung untuk mengungkapkan ketidaksetujuan mereka terhadap atasan? Mengapa kritik yang seharusnya sehat dianggap racun yang memecah hubungan profesional? Fenomena ini, jika dibedah secara fenomenologis, menunjukkan bahwa rasa takut dan ketidaknyamanan untuk mengkritik atasan bukanlah hal sepele. Ketakutan ini berakar pada ancaman implisit—takut dimusuhi, dijauhi, dikucilkan, atau diperlakukan berbeda setelah menyuarakan pandangan yang tak sejalan dengan pemimpin. Bagaimana mungkin organisasi bisa berkembang jika anggotanya takut berkata jujur? Ini bukan sekadar masalah komunika...