Langsung ke konten utama

Ilmu itu mahal, tapi tidak kali ini karena ada diskon besar-besaran (Bigsale Gramedia)

Akhir-akhir ini beberapa grup Whatssup dan beranda Instagram dipenuhi dengan postingan Gramedia yang sedang mengadakan Big Sale buku-buku mereka. Bigsale Gramedia kali ini ga tanggung-tanggung, bagaimana tidak, buku-buku original mereka jual mulai dari harga 5k sampai 75k. Sangat ramah dengan kantong mahasiswa, bukan?. 

Promo gramedia ini mengundang banyak sekali orang-orang untuk datang melihat-lihat bahkan memborong buku. Tentu saja saya sebagai pecinta buku sangat ingin sekali mampir ke event tersebut. namun sayang, lokasi gramedia tersebut cukup jauh dari tempat saya tinggal sehingga saya mikir-mikir lagi untuk kesana. 

Kabar baiknya, ada info di grup WA kelas yang menginfokan ada gramedia big sale juga di griya cinunuk, Hal ini membuat saya sangat girang sekali karena lokasi griya sangat dekat dengan tempat tinggal saya dibangingkan gramedia merdeka yang sangat jauh. esok harinya, akhirnya saya mengajak teman sesama kutu buku untuk hunting buku di griya cinunuk.

"Mas Alif, gas ke big sale gramedia yuk" ajak saya ke teman diskusi saya. "gas, kita hunting" jawab mas alif dengan penuh antusias menyambut ajakan saya. Akhirnya kami berdua berangkat menuju griya cinunuk siap memburu buku dengan harga murah. 

Ekspektasi kami soal bigsale yang ada di griya ini memang ga muluk-muluk amat dibandingkan dengan gramedia yang ada di pusat di jalan merdeka yang setiap harinya selama bigsale dipenuhi banyak sekali orang dan lebih banyak stok bukunya. Sesuai dengan ekspektasi, ternyata memang lapak bigsale di griya tidak terlalu besar dan tidak terlalu ramai. Lapaknya berada di luar di depan griya menyambut oran-orang yang masuk ke griya. 

Langsung saja kami menjelajahi lapak buku tersebut. Kami mencoba mencari buku-buku yang berkualitas dan relevan dengan apa yang kita cari. Setelah melihat dan mencari-cari akhirnya kami checkout kurang lebih 10 buku. Kami sangat senang, bagaimana tidak 10 buku yang kami beli tadi, jika ditotal dengan harga asli non-diskon, mencapai kurang lebih 945.000, hampir satu juta. Namun, kami hanya membayarnya senilai 220.000. cukup ramah dikantong kami sebagai mahasiswa. wkwk

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kediri oh Kediri, Part 1

Rabu, 25 September 2024, Saya bersama dengan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke Kediri. Kami pergi ke kediri dalam rangka menghadiri undangan pernikahan salah satu Mentor/Ustadzah MTA UIN Bandung, yaitu teh Makhyatul Fikriya yang akan menikah pada Sabtu 28 september.  Awal Mula Perjalanan Mula-mulanya berawal dari kang Nafi yang ngajak mentor-mentor untuk ikut serta ke Kediri buat kondangan. Tentu saja hal ini disambut baik oleh kami, khususnya saya yang kala itu memang sedang butuh healing alias jalan-jalan. lumayan, ada moment dan ada alasan buat keluar kota. apalagi dengan porsi budgeting yang relatif sangat murah.  Kami termasuk yang beruntung sih, karena kami dapet tiket kereta kahuripan di harga 200k, dan itu sudah PP (Pulang pergi). biasanya tiket-tiket kereta apalagi kereta yang antar provinsi mahal-mahal. bisa menyentuh angka 600k an untuk yang eksekutif, namun kali ini rejeki lagi ada di pihak kami. wkwk Malam itu juga, yang fiksasi langsung beli tiket, kare...

Dermawannya Gusti Allah itu Ga Harus Follow Dulu Kayak Influencer Jaman Sekarang

Ahmad Muzayyin Dalam dunia digital yang kita hidupi sekarang, istilah influencer sudah begitu melekat dalam keseharian. Kita sering kali melihat bagaimana para influencer, selebriti, atau konten kreator menjanjikan berbagai giveaway dan bentuk-bentuk “kedermawanan” lainnya, tetapi ada syaratnya: follow dulu ya akun gue! Seolah-olah, rasa kedermawanan ini memiliki harga, dan harga itu adalah "klik" pada tombol follow. Ini lumrah di era modern di mana perhatian, engagement, dan angka followers adalah aset yang paling berharga. Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan lebih dalam: apakah benar bahwa segala bentuk pemberian dan kebaikan harus diikuti dengan pamrih? Haruskah kebaikan dibarter dengan perhatian atau popularitas? Jika kita amati lebih jauh, dunia digital ini mencerminkan pola pikir transaksional yang semakin berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk mendapatkan sesuatu, kita mesti “membayar” dengan sesuatu yang tak melulu uang, tapi bisa berupa perhatian...

Mengkritik Atasan: Jalan Pintas Menuju 'Dikucilkan (seni halus menuju kejauhan sosial)

Di ruang-ruang rapat organisasi, baik itu korporat besar, lembaga non-profit, hingga komunitas kecil, sering kita temui fenomena yang hampir seragam: hening yang meresahkan saat kesempatan memberi masukan terbuka. Alih-alih menjadi momen diskusi kritis dan konstruktif, forum-forum ini sering kali diwarnai oleh anggukan patuh, persetujuan semu, dan bisikan-bisikan yang terpendam. Mengapa anggota kerap merasa terkungkung untuk mengungkapkan ketidaksetujuan mereka terhadap atasan? Mengapa kritik yang seharusnya sehat dianggap racun yang memecah hubungan profesional? Fenomena ini, jika dibedah secara fenomenologis, menunjukkan bahwa rasa takut dan ketidaknyamanan untuk mengkritik atasan bukanlah hal sepele. Ketakutan ini berakar pada ancaman implisit—takut dimusuhi, dijauhi, dikucilkan, atau diperlakukan berbeda setelah menyuarakan pandangan yang tak sejalan dengan pemimpin. Bagaimana mungkin organisasi bisa berkembang jika anggotanya takut berkata jujur? Ini bukan sekadar masalah komunika...