Langsung ke konten utama

Keterampilan Digital di Era Pendidikan Nasional 2023: Mengoptimalkan Teknologi untuk Membuka Peluang Baru bagi Siswa dan Guru

Pendidikan merupakan salah satu sektor yang terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Dalam era digital seperti saat ini, teknologi menjadi hal yang sangat penting dan harus dimanfaatkan dengan optimal dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, pada Hari Pendidikan Nasional tahun 2023, kita harus berbicara tentang pentingnya keterampilan digital di era pendidikan nasional yang baru.

Pemanfaatan teknologi di dalam pendidikan telah membuka peluang baru bagi para siswa dan guru untuk belajar dan mengajar dengan lebih efektif dan efisien. Teknologi dapat membantu siswa untuk mengakses informasi secara online, menyelesaikan tugas-tugas dengan lebih mudah, serta memperluas wawasan mereka melalui platform edukasi yang interaktif. Sementara itu, bagi guru, teknologi dapat memudahkan proses pengajaran dan membantu mereka untuk membuat materi yang lebih menarik dan mudah dimengerti oleh para siswa.

Namun, untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan, diperlukan keterampilan digital yang memadai dari para siswa dan guru. Keterampilan digital tidak hanya sebatas kemampuan dasar dalam pengoperasian perangkat dan aplikasi, tetapi juga meliputi kemampuan untuk mengkritisi, mencari dan menyelesaikan masalah, serta berkolaborasi secara online.

Mengingat betapa pentingnya keterampilan digital di era pendidikan nasional yang baru, maka pemerintah dan institusi pendidikan harus lebih serius dalam menyediakan program pelatihan dan pengembangan keterampilan digital bagi siswa dan guru. Pemerintah juga harus memastikan bahwa akses terhadap teknologi dan internet tersedia secara merata di seluruh wilayah Indonesia, terutama di daerah-daerah yang masih terbelakang.

Namun, di sisi lain, ada juga kekhawatiran tentang penggunaan teknologi yang berlebihan dan dampak negatifnya terhadap siswa dan guru. Misalnya, penggunaan teknologi yang berlebihan dapat mengurangi interaksi sosial dan keterampilan komunikasi interpersonal, serta dapat menyebabkan ketergantungan pada teknologi.

Oleh karena itu, sebagai masyarakat yang peduli akan dunia pendidikan, kita harus memastikan bahwa penggunaan teknologi di dalam pendidikan dilakukan secara seimbang dan bijak. Teknologi harus digunakan sebagai alat bantu dan pelengkap dalam proses belajar mengajar, bukan sebagai pengganti dari interaksi sosial dan hubungan manusiawi.

Dalam kesimpulannya, keterampilan digital menjadi sangat penting dalam era pendidikan nasional yang baru. Namun, untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi di dalam pendidikan, diperlukan upaya bersama dari pemerintah, institusi pendidikan, siswa, dan guru untuk memastikan bahwa teknologi digunakan dengan bijak dan seimbang. Dengan begitu, kita dapat membuka peluang baru bagi para siswa dan guru untuk mengembangkan potensi mereka dan memperkuat dunia pendidikan Indonesia.


-Ahmad Muzayyin-

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kediri oh Kediri, Part 1

Rabu, 25 September 2024, Saya bersama dengan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke Kediri. Kami pergi ke kediri dalam rangka menghadiri undangan pernikahan salah satu Mentor/Ustadzah MTA UIN Bandung, yaitu teh Makhyatul Fikriya yang akan menikah pada Sabtu 28 september.  Awal Mula Perjalanan Mula-mulanya berawal dari kang Nafi yang ngajak mentor-mentor untuk ikut serta ke Kediri buat kondangan. Tentu saja hal ini disambut baik oleh kami, khususnya saya yang kala itu memang sedang butuh healing alias jalan-jalan. lumayan, ada moment dan ada alasan buat keluar kota. apalagi dengan porsi budgeting yang relatif sangat murah.  Kami termasuk yang beruntung sih, karena kami dapet tiket kereta kahuripan di harga 200k, dan itu sudah PP (Pulang pergi). biasanya tiket-tiket kereta apalagi kereta yang antar provinsi mahal-mahal. bisa menyentuh angka 600k an untuk yang eksekutif, namun kali ini rejeki lagi ada di pihak kami. wkwk Malam itu juga, yang fiksasi langsung beli tiket, kare...

Dermawannya Gusti Allah itu Ga Harus Follow Dulu Kayak Influencer Jaman Sekarang

Ahmad Muzayyin Dalam dunia digital yang kita hidupi sekarang, istilah influencer sudah begitu melekat dalam keseharian. Kita sering kali melihat bagaimana para influencer, selebriti, atau konten kreator menjanjikan berbagai giveaway dan bentuk-bentuk “kedermawanan” lainnya, tetapi ada syaratnya: follow dulu ya akun gue! Seolah-olah, rasa kedermawanan ini memiliki harga, dan harga itu adalah "klik" pada tombol follow. Ini lumrah di era modern di mana perhatian, engagement, dan angka followers adalah aset yang paling berharga. Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan lebih dalam: apakah benar bahwa segala bentuk pemberian dan kebaikan harus diikuti dengan pamrih? Haruskah kebaikan dibarter dengan perhatian atau popularitas? Jika kita amati lebih jauh, dunia digital ini mencerminkan pola pikir transaksional yang semakin berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk mendapatkan sesuatu, kita mesti “membayar” dengan sesuatu yang tak melulu uang, tapi bisa berupa perhatian...

Mengkritik Atasan: Jalan Pintas Menuju 'Dikucilkan (seni halus menuju kejauhan sosial)

Di ruang-ruang rapat organisasi, baik itu korporat besar, lembaga non-profit, hingga komunitas kecil, sering kita temui fenomena yang hampir seragam: hening yang meresahkan saat kesempatan memberi masukan terbuka. Alih-alih menjadi momen diskusi kritis dan konstruktif, forum-forum ini sering kali diwarnai oleh anggukan patuh, persetujuan semu, dan bisikan-bisikan yang terpendam. Mengapa anggota kerap merasa terkungkung untuk mengungkapkan ketidaksetujuan mereka terhadap atasan? Mengapa kritik yang seharusnya sehat dianggap racun yang memecah hubungan profesional? Fenomena ini, jika dibedah secara fenomenologis, menunjukkan bahwa rasa takut dan ketidaknyamanan untuk mengkritik atasan bukanlah hal sepele. Ketakutan ini berakar pada ancaman implisit—takut dimusuhi, dijauhi, dikucilkan, atau diperlakukan berbeda setelah menyuarakan pandangan yang tak sejalan dengan pemimpin. Bagaimana mungkin organisasi bisa berkembang jika anggotanya takut berkata jujur? Ini bukan sekadar masalah komunika...