Langsung ke konten utama

Apakah santri layak dikatakan beriman?

Menarik, mas! Kang Alif dan Mas Daniel membuka percakapan yang menarik seputar keimanan santri. Saya sedang sibuk dengan tempe yang sedang digoreng, tapi pertanyaan Kang Alif langsung mengalihkan perhatian saya. Obrolan mereka membahas sejauh mana keimanan santri dapat diukur, dengan Kang Alif berpendapat bahwa keimanan mereka belum cukup teruji di lingkungan pesantren yang sangat agamis dan terjaga. Di sisi lain, Mas Daniel menyatakan bahwa banyak santri yang keluar dari zona nyaman pesantren dan justru kehilangan identitas santri mereka.

Saya melihatnya sebagai perdebatan antara lingkungan yang terlindungi dan penuh disiplin pesantren versus realitas kehidupan di luar sana. Pertanyaannya seolah mencari jawaban apakah keimanan sejati dapat bertahan dan berkembang di luar lingkungan yang sudah mendukungnya.

Percakapan antara Kang Alif dan Mas Daniel sungguh menciptakan ruang pemikiran yang menarik. Jika kita menilik lebih jauh, perbedaan pandangan mereka mencerminkan kompleksitas dinamika keimanan di tengah masyarakat pesantren. Kang Alif menggarisbawahi bahwa lingkungan pesantren yang sangat agamis dan terjaga mungkin menciptakan ilusi keimanan yang belum tentu teruji di dunia nyata.

Di sisi lain, Mas Daniel membuka perspektif bahwa banyak santri yang keluar dari pesantren terkadang mengalami perubahan yang mencolok dalam perilaku mereka. Ini menggugah pertanyaan mendalam tentang sejauh mana pondasi keimanan yang ditanamkan di pesantren mampu bertahan di tengah godaan dan tantangan dunia luar. Meskipun pesantren memberikan landasan yang kuat, kenyataannya, kehidupan di luar sana penuh dengan cobaan dan godaan yang dapat menggoyahkan keimanan.

Saya cenderung setuju dengan pandangan bahwa kebenaran keimanan seseorang muncul ketika mereka dihadapkan pada dunia yang sesungguhnya, di mana mereka harus menghadapi situasi kompleks dan beragam. Dalam hal ini, keimanan bukan hanya tentang pengabdian di pesantren tetapi juga tentang bagaimana seseorang mengintegrasikan nilai-nilai agama dan moralitasnya dalam kehidupan sehari-hari di luar pesantren.

Pentingnya menjaga keutuhan keimanan di tengah arus kehidupan modern yang seringkali kontrast dengan nilai-nilai tradisional menjadi pokok pembahasan yang menarik. Kesimpulannya mungkin dapat diarahkan pada perlunya pengembangan keimanan yang tangguh dan relevan dengan konteks zaman, sehingga santri tidak hanya terlatih untuk bertahan di lingkungan pesantren, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai keislaman dalam realitas kehidupan sehari-hari yang dinamis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kediri oh Kediri, Part 1

Rabu, 25 September 2024, Saya bersama dengan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke Kediri. Kami pergi ke kediri dalam rangka menghadiri undangan pernikahan salah satu Mentor/Ustadzah MTA UIN Bandung, yaitu teh Makhyatul Fikriya yang akan menikah pada Sabtu 28 september.  Awal Mula Perjalanan Mula-mulanya berawal dari kang Nafi yang ngajak mentor-mentor untuk ikut serta ke Kediri buat kondangan. Tentu saja hal ini disambut baik oleh kami, khususnya saya yang kala itu memang sedang butuh healing alias jalan-jalan. lumayan, ada moment dan ada alasan buat keluar kota. apalagi dengan porsi budgeting yang relatif sangat murah.  Kami termasuk yang beruntung sih, karena kami dapet tiket kereta kahuripan di harga 200k, dan itu sudah PP (Pulang pergi). biasanya tiket-tiket kereta apalagi kereta yang antar provinsi mahal-mahal. bisa menyentuh angka 600k an untuk yang eksekutif, namun kali ini rejeki lagi ada di pihak kami. wkwk Malam itu juga, yang fiksasi langsung beli tiket, kare...

Dermawannya Gusti Allah itu Ga Harus Follow Dulu Kayak Influencer Jaman Sekarang

Ahmad Muzayyin Dalam dunia digital yang kita hidupi sekarang, istilah influencer sudah begitu melekat dalam keseharian. Kita sering kali melihat bagaimana para influencer, selebriti, atau konten kreator menjanjikan berbagai giveaway dan bentuk-bentuk “kedermawanan” lainnya, tetapi ada syaratnya: follow dulu ya akun gue! Seolah-olah, rasa kedermawanan ini memiliki harga, dan harga itu adalah "klik" pada tombol follow. Ini lumrah di era modern di mana perhatian, engagement, dan angka followers adalah aset yang paling berharga. Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan lebih dalam: apakah benar bahwa segala bentuk pemberian dan kebaikan harus diikuti dengan pamrih? Haruskah kebaikan dibarter dengan perhatian atau popularitas? Jika kita amati lebih jauh, dunia digital ini mencerminkan pola pikir transaksional yang semakin berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk mendapatkan sesuatu, kita mesti “membayar” dengan sesuatu yang tak melulu uang, tapi bisa berupa perhatian...

Mengkritik Atasan: Jalan Pintas Menuju 'Dikucilkan (seni halus menuju kejauhan sosial)

Di ruang-ruang rapat organisasi, baik itu korporat besar, lembaga non-profit, hingga komunitas kecil, sering kita temui fenomena yang hampir seragam: hening yang meresahkan saat kesempatan memberi masukan terbuka. Alih-alih menjadi momen diskusi kritis dan konstruktif, forum-forum ini sering kali diwarnai oleh anggukan patuh, persetujuan semu, dan bisikan-bisikan yang terpendam. Mengapa anggota kerap merasa terkungkung untuk mengungkapkan ketidaksetujuan mereka terhadap atasan? Mengapa kritik yang seharusnya sehat dianggap racun yang memecah hubungan profesional? Fenomena ini, jika dibedah secara fenomenologis, menunjukkan bahwa rasa takut dan ketidaknyamanan untuk mengkritik atasan bukanlah hal sepele. Ketakutan ini berakar pada ancaman implisit—takut dimusuhi, dijauhi, dikucilkan, atau diperlakukan berbeda setelah menyuarakan pandangan yang tak sejalan dengan pemimpin. Bagaimana mungkin organisasi bisa berkembang jika anggotanya takut berkata jujur? Ini bukan sekadar masalah komunika...