Langsung ke konten utama

MAKAN GORENGAN SAMBIL NGE-GAME DAN DISKUSI ISU HANGAT ADALAH RITUAL WAJIB PELANGGAN CAFÉ NO JAIM : BUKAN SEKEDAR TONGKRONGAN BIASA

Para penghuni No Jaim sedang mendiskusikan nasib konoha

“NGOPI, NGOPI!!” Teriakan itu sudah lumrah sekali terdengar bagi temen-temen putra mahasiswa kampus 3 uin bandung setiap kali selesai program malam di asrama. Teriakan itu merupakan panggilan buat para mahasiswa untuk duduk Bersama sambil ngopi, ngobrol, bahkan main game bareng-bareng di emperan yang ada di antara asrama putra dan putri. Di sana ada warung yang dinamai Warung Café No Jaim.

Nongkrong di No Jaim ini asik dan ga membosankan. Kang Farhan sebagai Owner Warung selalu ada dan buat suasana warung jadi ramai dan asik. sesuai dengan nama warungnya yaitu “no jaim”, sambutannya ke mahasiswa yang dateng ke warungnya selalu khas “sini kang, teh, ngopi, jajan, jangan malu-malu” mengajak seluruh lapisan penghuni kampus 3 untuk berbaur dan akrab satu sama lain tanpa melihat perbedaan.

Tidak seperti warung atau angkringan pada umumnya yang lengkap dengan aneka jajanan dan minuman, warung no jaim ini tidak begitu banyak menawarkan jajanan. Jajanan yang ada di warung terkesan seadanya dan ekonomis tapi tetap enak dinikmati. Kita bisa menikmati gorengan hangat, kopi panas, minuman dingin, dan bahkan indomie. Kalo kata kang Ilyas “bukan soal apa yang dimakan, tapi dengan siapa kita makan, itu yang akan menjadikannya special.” Chuaks. Haha.

Tidak hanya bakwan saja yang digoreng, isu-isu terkini pun digoreng oleh penghuni tetap no jaim dan disajikan dengan hangat. Cocok buat kawan-kawan yang suka diskusi bermutu namun santai. Eak. biasanya hasil diskusi atau quotes-quotes menarik akan dipost melalui akun Instagram no jaim. Ada lord alif, lord Daniel, lord riyan, lord ilyas dan lord-lord kita yang lain yang selalu asik meramaikan diskusi.

Kalian haus pas malem-malem dan pengen yang dingin-dingin atau yang hangat-hangat? atau sekedar haus perhatian dan butuh tempat untuk heal tapi asik? tenang, minuman no jaim bisa menghilangkan dahaga kalian, begitupun perhatian dan sikap asik para penghuni no jaim, siap menghilangkan dahaga kalian akan perhatian.

Kalian ada yang jago main ml? game-game lainnya? Para pro-player kampus 3 pada ngumpul di no jaim buat mabar dan tanding. Gimana? Kurang menarik apa coba yak an….

Jam operasional no jaim memang ga menentu seperti sikap dia, labil dan gabisa ditebak. Haha. No jaim selalu buka lapak setelah program asrama selesai sampai ownernya bosen, kadang sampe tengah malem, kadang juga cepet tutup. Tapi yang pasti, setiap kali warung no jaim buka lapak, pasti ada panggilan melalui grup whatsApp asrama atau kalian bisa mendengar jeritan sang owner “NGOPI, NGOPI”…..

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kediri oh Kediri, Part 1

Rabu, 25 September 2024, Saya bersama dengan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke Kediri. Kami pergi ke kediri dalam rangka menghadiri undangan pernikahan salah satu Mentor/Ustadzah MTA UIN Bandung, yaitu teh Makhyatul Fikriya yang akan menikah pada Sabtu 28 september.  Awal Mula Perjalanan Mula-mulanya berawal dari kang Nafi yang ngajak mentor-mentor untuk ikut serta ke Kediri buat kondangan. Tentu saja hal ini disambut baik oleh kami, khususnya saya yang kala itu memang sedang butuh healing alias jalan-jalan. lumayan, ada moment dan ada alasan buat keluar kota. apalagi dengan porsi budgeting yang relatif sangat murah.  Kami termasuk yang beruntung sih, karena kami dapet tiket kereta kahuripan di harga 200k, dan itu sudah PP (Pulang pergi). biasanya tiket-tiket kereta apalagi kereta yang antar provinsi mahal-mahal. bisa menyentuh angka 600k an untuk yang eksekutif, namun kali ini rejeki lagi ada di pihak kami. wkwk Malam itu juga, yang fiksasi langsung beli tiket, kare...

Dermawannya Gusti Allah itu Ga Harus Follow Dulu Kayak Influencer Jaman Sekarang

Ahmad Muzayyin Dalam dunia digital yang kita hidupi sekarang, istilah influencer sudah begitu melekat dalam keseharian. Kita sering kali melihat bagaimana para influencer, selebriti, atau konten kreator menjanjikan berbagai giveaway dan bentuk-bentuk “kedermawanan” lainnya, tetapi ada syaratnya: follow dulu ya akun gue! Seolah-olah, rasa kedermawanan ini memiliki harga, dan harga itu adalah "klik" pada tombol follow. Ini lumrah di era modern di mana perhatian, engagement, dan angka followers adalah aset yang paling berharga. Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan lebih dalam: apakah benar bahwa segala bentuk pemberian dan kebaikan harus diikuti dengan pamrih? Haruskah kebaikan dibarter dengan perhatian atau popularitas? Jika kita amati lebih jauh, dunia digital ini mencerminkan pola pikir transaksional yang semakin berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk mendapatkan sesuatu, kita mesti “membayar” dengan sesuatu yang tak melulu uang, tapi bisa berupa perhatian...

Mengkritik Atasan: Jalan Pintas Menuju 'Dikucilkan (seni halus menuju kejauhan sosial)

Di ruang-ruang rapat organisasi, baik itu korporat besar, lembaga non-profit, hingga komunitas kecil, sering kita temui fenomena yang hampir seragam: hening yang meresahkan saat kesempatan memberi masukan terbuka. Alih-alih menjadi momen diskusi kritis dan konstruktif, forum-forum ini sering kali diwarnai oleh anggukan patuh, persetujuan semu, dan bisikan-bisikan yang terpendam. Mengapa anggota kerap merasa terkungkung untuk mengungkapkan ketidaksetujuan mereka terhadap atasan? Mengapa kritik yang seharusnya sehat dianggap racun yang memecah hubungan profesional? Fenomena ini, jika dibedah secara fenomenologis, menunjukkan bahwa rasa takut dan ketidaknyamanan untuk mengkritik atasan bukanlah hal sepele. Ketakutan ini berakar pada ancaman implisit—takut dimusuhi, dijauhi, dikucilkan, atau diperlakukan berbeda setelah menyuarakan pandangan yang tak sejalan dengan pemimpin. Bagaimana mungkin organisasi bisa berkembang jika anggotanya takut berkata jujur? Ini bukan sekadar masalah komunika...