Langsung ke konten utama

Sambal Gami Neng Mala Jatinangor: Pengalaman Mencicipi Sensasi Pedasnya!


Hari ini saya dan dua orang sahabat saya mencoba makan di sebuah warung sambal yang cukup hits di Jatinangor, namanya Sambal Gami Neng Mala. Kami dengar, sambalnya enak banget dan pedasnya juara. Sebagai penggemar makanan pedas, saya penasaran dengan rasa sambal yang sudah terkenal di wilayah Jatinangor dan sekitarnya ini. Akhirnya, kami memutuskan untuk mencoba. Saya ingin berbagi pengalaman kami mencicipi sambal Gami yang terkenal di Neng Mala Jatinangor. 

Kami memesan beberapa menu di antaranya adalah nasi putih, ayam goreng, tempe goreng, dan tentunya sambal gami yang menjadi menu utama di sini. Ketika kami mencicipi sambal gami, rasanya benar-benar luar biasa! Pedasnya pas, tidak terlalu tajam, dan sangat cocok dengan nasi putih dan lauk pauk yang kami pesan.

Ketika mencicipi sambal Gami, rasanya sangat berbeda dengan sambal lain yang pernah saya coba. Sambal ini memiliki tingkat kepedasan yang cukup tinggi, namun tetap menghadirkan rasa yang lezat. Di dalamnya terdapat bahan-bahan yang segar seperti cabai, bawang putih, dan bawang merah yang diolah dengan sempurna dan dibakar diatas cobek yang terbuat dari tanah liat. hmmm

Sambal gami di sini memang memiliki keunikan, yaitu sambalnya disajikan dengan irisan tomat dan timun. Kedua bahan tersebut memberikan rasa segar dan seimbang pada sambal yang pedasnya sudah cukup. Kami bahkan menambah porsi nasi karena rasanya yang bikin ketagihan, dan satu lagi, kita bisa ambil nasi sepuasnya alias unlimited.

Selain rasa pedasnya yang memukau, sambal Gami Neng Mala Jatinangor juga sangat terjangkau harganya. Anda bisa menikmati sensasi pedasnya hanya dengan harga yang sangat terjangkau. 

Meskipun kami harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan makanan, pengalaman makan di Sambal Gami Neng Mala sangatlah menyenangkan dan patut dicoba. Rasanya yang khas dan unik benar-benar memuaskan lidah kami. Jika teman-teman berada di sekitar Jatinangor, jangan lupa untuk mampir ke sini ya!

Semoga bisa menjadi referensi buat teman-teman semua yang suka mencari tempat makan yang unik dan enak-enak. Terima kasih sudah membaca dan selamat mencoba!

Kesimpulannya, bagi Anda yang menyukai makanan pedas dan ingin mencicipi sensasi pedas yang berbeda dari sambal, sambal Gami Neng Mala Jatinangor patut menjadi pilihan. Jangan ragu untuk mencoba dan nikmati sensasi pedas yang dihadirkan oleh sambal ini!


 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kediri oh Kediri, Part 1

Rabu, 25 September 2024, Saya bersama dengan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke Kediri. Kami pergi ke kediri dalam rangka menghadiri undangan pernikahan salah satu Mentor/Ustadzah MTA UIN Bandung, yaitu teh Makhyatul Fikriya yang akan menikah pada Sabtu 28 september.  Awal Mula Perjalanan Mula-mulanya berawal dari kang Nafi yang ngajak mentor-mentor untuk ikut serta ke Kediri buat kondangan. Tentu saja hal ini disambut baik oleh kami, khususnya saya yang kala itu memang sedang butuh healing alias jalan-jalan. lumayan, ada moment dan ada alasan buat keluar kota. apalagi dengan porsi budgeting yang relatif sangat murah.  Kami termasuk yang beruntung sih, karena kami dapet tiket kereta kahuripan di harga 200k, dan itu sudah PP (Pulang pergi). biasanya tiket-tiket kereta apalagi kereta yang antar provinsi mahal-mahal. bisa menyentuh angka 600k an untuk yang eksekutif, namun kali ini rejeki lagi ada di pihak kami. wkwk Malam itu juga, yang fiksasi langsung beli tiket, kare...

Dermawannya Gusti Allah itu Ga Harus Follow Dulu Kayak Influencer Jaman Sekarang

Ahmad Muzayyin Dalam dunia digital yang kita hidupi sekarang, istilah influencer sudah begitu melekat dalam keseharian. Kita sering kali melihat bagaimana para influencer, selebriti, atau konten kreator menjanjikan berbagai giveaway dan bentuk-bentuk “kedermawanan” lainnya, tetapi ada syaratnya: follow dulu ya akun gue! Seolah-olah, rasa kedermawanan ini memiliki harga, dan harga itu adalah "klik" pada tombol follow. Ini lumrah di era modern di mana perhatian, engagement, dan angka followers adalah aset yang paling berharga. Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan lebih dalam: apakah benar bahwa segala bentuk pemberian dan kebaikan harus diikuti dengan pamrih? Haruskah kebaikan dibarter dengan perhatian atau popularitas? Jika kita amati lebih jauh, dunia digital ini mencerminkan pola pikir transaksional yang semakin berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk mendapatkan sesuatu, kita mesti “membayar” dengan sesuatu yang tak melulu uang, tapi bisa berupa perhatian...

Mengkritik Atasan: Jalan Pintas Menuju 'Dikucilkan (seni halus menuju kejauhan sosial)

Di ruang-ruang rapat organisasi, baik itu korporat besar, lembaga non-profit, hingga komunitas kecil, sering kita temui fenomena yang hampir seragam: hening yang meresahkan saat kesempatan memberi masukan terbuka. Alih-alih menjadi momen diskusi kritis dan konstruktif, forum-forum ini sering kali diwarnai oleh anggukan patuh, persetujuan semu, dan bisikan-bisikan yang terpendam. Mengapa anggota kerap merasa terkungkung untuk mengungkapkan ketidaksetujuan mereka terhadap atasan? Mengapa kritik yang seharusnya sehat dianggap racun yang memecah hubungan profesional? Fenomena ini, jika dibedah secara fenomenologis, menunjukkan bahwa rasa takut dan ketidaknyamanan untuk mengkritik atasan bukanlah hal sepele. Ketakutan ini berakar pada ancaman implisit—takut dimusuhi, dijauhi, dikucilkan, atau diperlakukan berbeda setelah menyuarakan pandangan yang tak sejalan dengan pemimpin. Bagaimana mungkin organisasi bisa berkembang jika anggotanya takut berkata jujur? Ini bukan sekadar masalah komunika...