Langsung ke konten utama

Menelusuri Situs Makam Sunan Gunung Jati


"Kak, ikut ziarah ke sunan gunung jati yuk bareng kang Ad" ajak adik pada saya yang saat itu masih baru terbangun dari tidur. Sebetulnya saat itu saya masih sangat kelelahan sebab saya baru saja sampai dari depok malam harinya. 

"Masuk ke area maqbarohnya gak?" tanya saya. "Masuk kak. kan bareng rombongan kang ad".

Kang Ad sendiri merupakan guru kami. Guru beladiri lebih tepatnya. Beliau merupakan salah satu sesepuh Cirebon juga. Ahli Silat Lipat.

Mengetahui saya akan diajak berziarah masuk ke area maqbarah tersebut saya langsung menerima ajakan adik saya dan bergegas bersiap-siap. Ini merupakan kesempatan emas yang tak boleh dilewatkan mengingat saya bukan seorang berdarah biru keturunan keraton yang dapat memasuki area tersebut dengan mudah.

Momen ini juga merupakan keberuntungan bagi saya karena selama ini beberapa kali berziarah ke makam sunan gunung jati saya hanya sebatas berziarah di teras gerbang utama atau melalui jalur belakang tempat para ki gede Cirebon dimakamkan.

Ziarah kali ini agak berbeda karena kami akan masuk ke area maqbarah dan langsung berziarah di sana.

Area maqbarah sendiri merupakan area khusus yang tidak dapat dimasuki oleh sembarang orang. Hanya orang-orang khusus yang memiliki izin yang dapat memasuki dan berziarah langsung di maqbarah. 

Tidak seperti makam sunan-sunan lainnya yang mana kita dapat langsung berziarah di sekitar makam tersebut, di makam sunan gunung jati para peziarah umumnya hanya dapat berziarah di teras gerbang utama. Di sana terdapat teras yang cukup luas yang memang dikhususkan untuk para peziarah yang datang. Bagi yang pernah berziarah pasti tidak asing lagi dengan tempat tersebut.

Di balik gerbang tersebut terdapat pemakaman yang luas dan menanjak ke atas yang saya sebutkan di atas. Hanya dapat dimasuki oleh orang-orang yang memiliki izin. Di sana terdapat pemakaman anggota keluarga keraton kasepuhan dan kanoman dan maqbarah Sunan Gunung Jati.

Setelah pak Kyai yang akan menuntun kita datang, kami langsung masuk ke dalam. Setelah melewati gerbang utama kami diminta untuk melepas alas kaki. Setelah gerbang utama masih ada kurang lebih 6-7 gapura gerbang lagi yang harus kami lalui dengan menanjak untuk sampai ke tempat utama dimana makam sunan gunung jati berada.

Ketika sampai di mulut gerbang terakhir, kami dibrifing agar mengawali setiap anak tangga dengan kaki kanan sebagai bentuk adab. kami juga diberitahu bahwa di sisi kanan dan kiri gerbang terdapat guci berisikan air yang dapat kita gunakan airnya untuk minum atau sekedar cuci muka. Beberapa orang dari rombongan kami meminum air tersebut bahkan mengisi ulang botol minuman yang mereka bawa dengan air dari guci tersebut. Meskipun air tersebut terlihat keruh dan gucinya berlumut namun mereka tetap meminumnya karena dianggap mengandung keberkahan.

Setelah di dalam, kami langsung mengambil posisi duduk untuk tahlil. Pak Kyai membagikan buku ratib berisi bacaan-bacaan dan doa yang akan dibaca saat tahlil bersama. Setelah tahlil saya diminta untuk memimpin bacaan doa oleh Kang Ad. 

"Ini maqbarah Ibunda Sunan gunung jati" ungkap Kang Ad sembari menunujuk ke maqbarah yang berada tepat di depan tempat kami duduk. Maqbarah Sunan Gunung Jati itu sendiri berada tepat di tengah ruangan tersebut. dipagari oleh pagar yang terbuat dari kayu serta beratap. Ruangan tersebut cukup gelap karena hanya mengandalkan sinar matahari yang masuk melalui ventilasi udara sebagai pencahayaan.

"Kalau maqbarah pangeran Cakrabuana dimana kang?" tanya saya pada kang ad. 
Kang ad mengisyaratkan jarinya keluar tembok menunjukkan letak maqbarah putra sulung Raja Pajajaran Prabu Siliwangi sekaligus Uwa dari Sunan Gunung Jati tersebut. Setelah melakukan tahlil di maqbarah sunan gunung jati, kami keluar sedikit menuju ke area kanan dari tempat tersebut. disana ada koridor serta beberapa makam. diantaranya terdapat makam pangeran panjunan, pangeran kejaksan, makam pangeran Cakrabuana dan makam salah satu istri sunan gunung jati yaitu putri ongtien yang merupakan seorang putri dari dinasti China pada masanya.

Setelah selesai ziarah, kami berkumpul di depan gerbang terakhir tadi. "Sebelah sini semuanya makam keluarga keraton kasepuhan" ungkap kang ad sambil menunjuk ke arah kiri gapura. "Kalau yang sebelah sini makam keluarga keraton kanoman" ujar kang ad sambil menunjuk ke arah kanan gapura.

Setelah sesi dokumentasi kami turun beberapa gapura dan dibimbing menuju ke makam istri-istri sunan gunung jati. Bangunannya sangat original dan sangat tua. Meskipun demikian tempat tersebut masih terawat dan bersih. Di dalam ruangan makam tersebut terdapat 6 makam yang disinyalir merupakan makam istri-istri sunan gunung jati.

Setelah berziarah dan berdoa, kami kembali dan pulang. Ziarah kali ini memberikan pengalaman yang sangat
berkesan karena saya dapat langsung masuk berziarah ke dalam situs makam sunan gunung jati. Suasana area situs masih sangat asri dan terjaga. Berjalan disana serasa memasuki lorong waktu ke era abad pertengahan dengan corak nusantara. Semoga situs-situs bersejarah di Indonesia selalu terawat dan terhindar dari tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab karena itu merupakan aset sejarah budaya dan bangsa indonesia yang sangat berharga. aamiin.














  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kediri oh Kediri, Part 1

Rabu, 25 September 2024, Saya bersama dengan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke Kediri. Kami pergi ke kediri dalam rangka menghadiri undangan pernikahan salah satu Mentor/Ustadzah MTA UIN Bandung, yaitu teh Makhyatul Fikriya yang akan menikah pada Sabtu 28 september.  Awal Mula Perjalanan Mula-mulanya berawal dari kang Nafi yang ngajak mentor-mentor untuk ikut serta ke Kediri buat kondangan. Tentu saja hal ini disambut baik oleh kami, khususnya saya yang kala itu memang sedang butuh healing alias jalan-jalan. lumayan, ada moment dan ada alasan buat keluar kota. apalagi dengan porsi budgeting yang relatif sangat murah.  Kami termasuk yang beruntung sih, karena kami dapet tiket kereta kahuripan di harga 200k, dan itu sudah PP (Pulang pergi). biasanya tiket-tiket kereta apalagi kereta yang antar provinsi mahal-mahal. bisa menyentuh angka 600k an untuk yang eksekutif, namun kali ini rejeki lagi ada di pihak kami. wkwk Malam itu juga, yang fiksasi langsung beli tiket, kare...

Dermawannya Gusti Allah itu Ga Harus Follow Dulu Kayak Influencer Jaman Sekarang

Ahmad Muzayyin Dalam dunia digital yang kita hidupi sekarang, istilah influencer sudah begitu melekat dalam keseharian. Kita sering kali melihat bagaimana para influencer, selebriti, atau konten kreator menjanjikan berbagai giveaway dan bentuk-bentuk “kedermawanan” lainnya, tetapi ada syaratnya: follow dulu ya akun gue! Seolah-olah, rasa kedermawanan ini memiliki harga, dan harga itu adalah "klik" pada tombol follow. Ini lumrah di era modern di mana perhatian, engagement, dan angka followers adalah aset yang paling berharga. Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan lebih dalam: apakah benar bahwa segala bentuk pemberian dan kebaikan harus diikuti dengan pamrih? Haruskah kebaikan dibarter dengan perhatian atau popularitas? Jika kita amati lebih jauh, dunia digital ini mencerminkan pola pikir transaksional yang semakin berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk mendapatkan sesuatu, kita mesti “membayar” dengan sesuatu yang tak melulu uang, tapi bisa berupa perhatian...

Mengkritik Atasan: Jalan Pintas Menuju 'Dikucilkan (seni halus menuju kejauhan sosial)

Di ruang-ruang rapat organisasi, baik itu korporat besar, lembaga non-profit, hingga komunitas kecil, sering kita temui fenomena yang hampir seragam: hening yang meresahkan saat kesempatan memberi masukan terbuka. Alih-alih menjadi momen diskusi kritis dan konstruktif, forum-forum ini sering kali diwarnai oleh anggukan patuh, persetujuan semu, dan bisikan-bisikan yang terpendam. Mengapa anggota kerap merasa terkungkung untuk mengungkapkan ketidaksetujuan mereka terhadap atasan? Mengapa kritik yang seharusnya sehat dianggap racun yang memecah hubungan profesional? Fenomena ini, jika dibedah secara fenomenologis, menunjukkan bahwa rasa takut dan ketidaknyamanan untuk mengkritik atasan bukanlah hal sepele. Ketakutan ini berakar pada ancaman implisit—takut dimusuhi, dijauhi, dikucilkan, atau diperlakukan berbeda setelah menyuarakan pandangan yang tak sejalan dengan pemimpin. Bagaimana mungkin organisasi bisa berkembang jika anggotanya takut berkata jujur? Ini bukan sekadar masalah komunika...