Langsung ke konten utama

Bekal dan Sebaik-baiknya Teman itu...

Bagaimana jika seseorang terjebak di tengah gurun pasir  tanpa perbekalan yang cukup?. ia berusaha melewati gurun pasir untuk mencapai negeri seberang yang masih amat jauh sehingga harus menempuh perjalanan selama 3 hari sedangkan perbekalan yang ia bawa hanya akan mencukupi kebutuhannya selama satu hari dan akan habis. Apa yang akan terjadi dengan orang ini? tepat sekali. Ia akan sangat menderita melewati sisa perjalanannya di tengah teriknya gurun pasir tersebut. Tenggorokannya akan kering dan sangat kehausan sebab terik matahari yang menyengat. Ia akan kelaparan karena bekal makanan yang ia bawa tak tersisa. 

Ia akan merasakan penderitaan yang amat menyiksa dan ia akan kesusahan. Lalu apa penyebab dari kesengsaraan, penderitaan dan kepedihan yang dialaminya tersebut? jawabannya adalah ia tidak membekali diri dengan bekal yang cukup. 

Itu adalah gambaran sederhana dan mudah dipahami tentang betapa pentingnya bekal untuk melakukan sebuah perjalanan dan dampak ketika kita tidak mempersiapkan diri kita dengan baik. 

Jika saja orang tersebut mempersiapkan segalanya dengan baik dan  membekali diri sebaik mungkin maka ia tidak akan khawatir, kesusahan bahkan tidak akan menderita akibat kekurangan bekal sehingga akan selamat sampai tujuan.

Begitupula dengan kehidupan akhirat. Ia sejatinya adalah sebuah perjalanan. Perjalanan yang sangat panjang. Perjalanan pulang menuju sang pencipta dan dunia adalah tempat dimana kita harus menyiapkan segalanya untuk pulang.

Dunia sejatinya merupakan tempat dimana kita harus mengumpulkan bekal sebanyak mungkin agar ketika perjalanan yang sesungguhnya di mulai (alam setelah kematian) kita tidak tersiksa akibat kekurangan bekal dan sebaik-baiknya bekal dan teman adalah amal shaleh.

Amal shaleh adalah perbuatan baik yang kita lakukan di dunia. Segala perbuatan yang mengandung nilai kebaikan dan diniatkan karena Allah SWT maka tergolong amal shaleh. 

Mengapa amal shaleh merupakan sebaik-baiknya bekal yang dapat kita kumpulkan untuk kehidupan akhirat? Karena amal shaleh akan menjelma menjadi teman kita yang senantiasa berada disisi kita, menemani kita bahkan menghantarkan kita menuju rahmat dan ridho Allah SWT alias surganya.

"Sebaik-baiknya teman adalah amal shaleh karena dialah yang akan menemani kita di dalam kubur dikala semua teman, sahabat bahkan saudara yang kita kenal meninggalkan kita. Amal Shaleh lah yang akan menerangi kuburan kita" begitulah kata Hatim Al-Asham Rh. dalam kitab Ayyuhal Walad karya Imam Gazali Rh.

Apakah kita sudah berteman baik dengannya? apakah kita sudah akrab dengannya?

Dikatakan dalam hadits yang dikutip dari tafsir ruhul bayan bahwa seorang mukmin ketika dibangkitkan dari kubur, amal shalehnya akan menjelma menjadi sosok yang bagus nan indah dan berkata "saya adalah amal shalehmu" dan ia akan menjadi cahaya yang menerangi jalannya serta menuntunnya menuju surga. Sedangkan ketika seorang kafir dibangkitkan dari kubur, amalnya akan berubah menjadi sosok yang sangat buruk dan menakutkan dan ia akan berkata "aku adalah amalmu". Ia akan berjalan menyeretnya membawanya hingga neraka.

Dan pada akhirnya, semua orang yang pernah kita sayangi, sahabat kita, saudara kita, anak kita, istri kita, semuanya akan meninggalkan kita saat kita meninggal. Tidak ada yang benar-benar dapat menemani kita kecuali amal shaleh kita. Amal shaleh merupakan sebaik-baiknya bekal, teman serta sebaik-baiknya investasi untuk kehidupan kita di akhirat kelak.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kediri oh Kediri, Part 1

Rabu, 25 September 2024, Saya bersama dengan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke Kediri. Kami pergi ke kediri dalam rangka menghadiri undangan pernikahan salah satu Mentor/Ustadzah MTA UIN Bandung, yaitu teh Makhyatul Fikriya yang akan menikah pada Sabtu 28 september.  Awal Mula Perjalanan Mula-mulanya berawal dari kang Nafi yang ngajak mentor-mentor untuk ikut serta ke Kediri buat kondangan. Tentu saja hal ini disambut baik oleh kami, khususnya saya yang kala itu memang sedang butuh healing alias jalan-jalan. lumayan, ada moment dan ada alasan buat keluar kota. apalagi dengan porsi budgeting yang relatif sangat murah.  Kami termasuk yang beruntung sih, karena kami dapet tiket kereta kahuripan di harga 200k, dan itu sudah PP (Pulang pergi). biasanya tiket-tiket kereta apalagi kereta yang antar provinsi mahal-mahal. bisa menyentuh angka 600k an untuk yang eksekutif, namun kali ini rejeki lagi ada di pihak kami. wkwk Malam itu juga, yang fiksasi langsung beli tiket, kare...

Dermawannya Gusti Allah itu Ga Harus Follow Dulu Kayak Influencer Jaman Sekarang

Ahmad Muzayyin Dalam dunia digital yang kita hidupi sekarang, istilah influencer sudah begitu melekat dalam keseharian. Kita sering kali melihat bagaimana para influencer, selebriti, atau konten kreator menjanjikan berbagai giveaway dan bentuk-bentuk “kedermawanan” lainnya, tetapi ada syaratnya: follow dulu ya akun gue! Seolah-olah, rasa kedermawanan ini memiliki harga, dan harga itu adalah "klik" pada tombol follow. Ini lumrah di era modern di mana perhatian, engagement, dan angka followers adalah aset yang paling berharga. Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan lebih dalam: apakah benar bahwa segala bentuk pemberian dan kebaikan harus diikuti dengan pamrih? Haruskah kebaikan dibarter dengan perhatian atau popularitas? Jika kita amati lebih jauh, dunia digital ini mencerminkan pola pikir transaksional yang semakin berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk mendapatkan sesuatu, kita mesti “membayar” dengan sesuatu yang tak melulu uang, tapi bisa berupa perhatian...

Mengkritik Atasan: Jalan Pintas Menuju 'Dikucilkan (seni halus menuju kejauhan sosial)

Di ruang-ruang rapat organisasi, baik itu korporat besar, lembaga non-profit, hingga komunitas kecil, sering kita temui fenomena yang hampir seragam: hening yang meresahkan saat kesempatan memberi masukan terbuka. Alih-alih menjadi momen diskusi kritis dan konstruktif, forum-forum ini sering kali diwarnai oleh anggukan patuh, persetujuan semu, dan bisikan-bisikan yang terpendam. Mengapa anggota kerap merasa terkungkung untuk mengungkapkan ketidaksetujuan mereka terhadap atasan? Mengapa kritik yang seharusnya sehat dianggap racun yang memecah hubungan profesional? Fenomena ini, jika dibedah secara fenomenologis, menunjukkan bahwa rasa takut dan ketidaknyamanan untuk mengkritik atasan bukanlah hal sepele. Ketakutan ini berakar pada ancaman implisit—takut dimusuhi, dijauhi, dikucilkan, atau diperlakukan berbeda setelah menyuarakan pandangan yang tak sejalan dengan pemimpin. Bagaimana mungkin organisasi bisa berkembang jika anggotanya takut berkata jujur? Ini bukan sekadar masalah komunika...