Langsung ke konten utama

NİKABET MÜESSELERİ VE NAKİBÜL EŞRAF

 

LEMBAGANYA PARA HABAIB

 


Nabi Muhammad SAW merupakan Nabi akhir zaman dan Nabi yang paling mulia diantara Nabi yang lainnya. Anak cucu keturunan Rasulullah pun memiliki kemuliaan dan kedudukan dikalangan masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia yang sangat mencintai dan menghormati para Ulama dan para Cucu Rasulullah SAW.

Mereka dikenal dengan sebutan Habib, Sayyid maupun Syarif. Para Habaib merupakan keturunan Rasulullah SAW dari putri kesayangannya yaitu Sayyidati Fatimah RH. Kebanyakan dari mereka merupakan Ulama serta pendakwah dan memiliki pengaruh besar dikalangan masyarakat.

Di berbagai tempat, terdapat Lembaga atau organisasi yang didirikan dengan tujuan sebagai forum perkumpulan para Habaib. Selain itu, Lembaga-lembaga tersebut berfungsi menetapkan siapa-siapa saja yang merupakan dzurriyah Nabi sebenarnya serta bergerak di bidang social dan kemasyarakatan.

Di Indonesia terdapat organisasi Rabithah Alawiyah yang merupakan organisasi massa Islam dan bergerak dibidang social kemasyarakatan. Pada era kekhalifahan islam terdapat Nikabet Müesseseleri sebagai lembaga yang menungi para Habaib.

 

DEFINISI NAKİBÜL EŞRAF DAN NİKABET MÜESSELERİ

Kata Nakibül Eşraf adalah bentuk frasa dalam bahasa Turki yang diambil dari bahasa arab. Kata Nakib memiliki arti pemimpin atau wakil dari sebuah kelompok dan kata Eşraf adalah sebutan untuk anak cucu keturunan Rasulullah SAW.

Nakibül Eşraf secara istilah dapat diartikan sebagai seorang pemimpin, ketua umum lembaga atau organisasi yang menghimpun, menaungi serta menjaga para keturunan Nabi Muhammad SAW.

Lembaga yang dipimpin oleh Nakibül Eşraf bernama Nikabet Müesseseleri. Nikabet Müesseseleri adalah sebuah lembaga yang dibentuk oleh pemerintah dan bergerak dibidang sosial dan kemasyarakatan. lembaga ini dibentuk dengan tujuan untuk menghimpun dan mengurus para keturunan Nabi SAW di berbagai macam aspek.

 

Nikabet Müesseleri dari masa ke masa

Cikal bakal dari Nikabet Müessesesi telah muncul sejak masa kekhalifahan Abu Bakar Shiddiq RA. Khalifah Abu Bakar RA saat itu telah menunjuk sahabat Ali RA sebagai orang yang bertanggung jawab atas keluarga Rasulullah SAW. Pada saat itu, sahabat Ali Ra ditugaskan untuk mengatur dan membagikan harta rampasan perang kepada para keturunan nabi.

Pada masa pemerintahan Sahabat Umar RA anak cucu keturunan nabi mulai didata dan dimasukkan kedalam catatan supaya mempermudah proses pembagian sadaqah dan harta rampasan perang. Pencatatan tersebut juga mencegah mereka yang mengaku ngaku sebagai keturunan Nabi SAW.

Nikabet Müesseseleri secara resmi dibentuk pertamakali oleh Khalifah Mutawakkil pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah. Nikabet Müesseseleri merupakan lembaga pemerintahan dan terus berkembang tidak hanya pada dinasti Abbasiyah melainkan hampir seluruh kekhalifahan islam seperti dinasti Fatimiyah, Ayyubiyah, Mamluk, Saljuk bahkan Ottoman memiliki nikabet müesseleri masing masing.

Masyarakat Utsmani adalah orang orang yang sangat mencintai dan menghormati keturunan Nabi SAW. Nikabet Müessesi perdana pada masa Ottoman dibentuk oleh Sultan Yıldırım Beyazid (Ramadhan 802 H/Mei 1400 M). Sultan menunjuk seorang sayyid dari Baghdad yang bernama Sayyid Muhammad Natta Hüseyin sebagai Ketua pertama Nikabet Müessesi.

Pasca perang Ankara yang melibatkan pasukan Ottoman dan pasukan Timur Lenk, Sayyid Muhammad ditangkap sebagai tawanan perang dan diasingkan oleh pasukan Timur Lenk. Setelah bebas dari pengasingan, beliau tinggal beberapa waktu di Hijaz kemudian kembali ke Kota Bursa, Turki dan melanjutkan jabatannya sebagai Ketua umum Nikabet Müessesesi pada masa Sultan Murad II.

Pada awal perintisannya kata Nakibül Eşraf masih belum digunakan sebagai sebutan untuk ketua lembaga. Mereka lebih dikenal dengan sebutan Nazır. Mereka pun tidak mendapatkan gaji secara rutin dari pemerintah.

Sebutan Nakibül Eşraf di era Ottoman pertamakali populer dan digunakan oleh Sayyid Mahmud bin Sayyid Abdullah pada masa Sultan Beyazid II. Sejak saat itu juga Nakibül Eşraf dan staf Nikabet lainnya mendapatkan gaji tetap dan rutin dari pemerintah.

Pada masa Sultan Abdul Hamid II. Dibangun kantor kantor khusus untuk Nikabet Müesseseleri yang berpusat di Istanbul sehingga pekerjaan dan management Nikabet Müesseseleri menjadi lebih tertata dan teratur.

Nikabet Müesseseleri tidak beroperasi lagi dan dibubarkan secara resmi oleh pemerintah sekuler pasca runtuhnya khilafah Ottoman.

 

TUGAS TUGAS SEORANG NAKİBÜL EŞRAF

Nikabet müesseseleri didirikan dengan tujuan menghimpun dan mengurus berbagai kepentingan para Habaib. Lembaga ini bergerak di bidang sosial dan kemasyarakatan. makadari itu, Nikabet Müesseseleri memiliki tugas yang beragam. Diantaranya adalah :

1.     Menulis nasab para Habaib.

Menjadi seorang Habib merupakan sebuah kemuliaan dan keistimewaan yang sangat besar. Nasab mereka jelas dan tersambung sampai kepada Rasulullah SAW bahkan tersambung hingga Nabi Adam as. Mayoritas dari mereka merupakan Ulama yang mewarisi akhlak dan ilmu dari Rasulullah SAW. Oleh sebab itu masyarakat sangat menghormati dan menjunjung tinggi para Habaib.  

Menjadi seseorang yang dihormati dan dimuliakan merupakan sebuah keistimewaan yang didambakan banyak orang, sehingga tidak sedikit orang yang rela mengaku ngaku sebagai seorang Habib untuk mendapatkan privilage tersebut. Dilansir dari İslam Ansiklopedisi, Lutfi Paşa mengatakan bahwa pada abad ke-16 terdapat banyak orang yang mengklaim dirinya sebagai habib untuk mendapatkan penghormatan dan pengakuan dari masyarakat.

Peristiwa tersebut menuntut Nikabet Müesseseleri mengambil langkah untuk mengurangi dan mencegah maraknya pengakuan palsu. Salah satu solusi untuk masalah tersebut adalah dengan mencatat siapa siapa saja yang merupakan keturunan rasul, mencatat nasabnya hingga ke rasul, mengesahkan dokumen tersebut serta menyimpannya dalam buku khusus yang diberi nama Şecer-i Tayyibe.

Orang yang mencatat nasab dan informasi lainnya seputar habaib kedalam Şecer-i Tayyibe disebut dengan Nakibül Ensab. Nakibül Ensab memiliki atasan yang disebut Nakibün Nükaba. Tugas Nakibün Nükaba adalah memonitoring dan memantau kinerja Nakibül Ensab.

Şecer-i Tayyibe adalah sebuah buku catatan khusus yang menampung berbagai macam informasi terkait para Habaib. Buku tersebut disimpan oleh Nakibül Ensab dan ditempatkan di pemerintah kota atau ibu kota kekhilafahan. İnformasi yang ada dalam Şecer-i Tayyibe meliputi :

·         Nasab para habaib hingga ke Rasulullah SAW.

·         Nama nama keturunan mereka (anak, cucu dst.)

·         Alamat tempat tinggal para Habaib.

·         Status sosial para Habaib.

·         Catatan pernikahan para Habaib.

 

  • 2.     Memimpin kafilah haji

 

 

  • 3.     Menjadi seorang wazir atau mentri
  • 4.     Mengawal pernikahan para Habaib. Salah satunya dengan memastikan kedua calon merupakan keturunan Nabi. Hal ini bertujuan agar keutuhan nasap tetap terjaga.
  • 5.     Mengatur dan membagikan harta rampasan perang dan shadaqah untuk para Habaib.
  • 6.     Menjadi hakim bagi para habaib yang melanggar hukum.

Para habaib bukanlah seorang nabi yang ma’sum atau terjaga dari perbuatan dosa. Karena mereka adalah manusia seperti kita maka mereka suatu waktu dapat melakukan tindakan melanggar hukum.

Hukum tetaplah hukum dan bagi siapapun yang melanggarnya akan mendapatkan hukuman atau sanksi. Ketika seorang Habib melakukan tindakan melanggar hukum mereka tetap akan berhadapan dengan seorang hakim di pengadilan. Bahkan jika dinyatakan bersalah mereka akan diberikan hukuman yang sesuai karena hukum harus ditegakkan dengan adil tanpa memandang siapa yang melakukannya.

Proses hukum bagi seorang Habib tidak dicampur dengan orang biasa. Seorang Habib memiliki keutamaan dan kemuliaan diatas orang lain dari sisi nasab karena mereka merupakan keturunan Rasul. Untuk menjaga kehormatan dan adab terhadap cucu nabi, maka proses hukum mereka di adakan secara terpisah. Hakim yang menanganinya pun bukan hakim biasa pada umumnya karena orang yang bukan habib tidak dapat menghakimi seorang habib. Hanya sesama habib yang dapat menghakimi.

Hakim bagi seorang habib adalah Nakibül eşraf karena ia merupakan keturunan Rasul. Tempat pengadilannya pun terpisah dan berbeda dengan pengadilan bagi orang biasa. Bahkan ketika dipastikan bersalah dan harus menjalani hukuman penjara mereka akan menempati penjara yang terpisah dari penjara orang biasa.

Peran Nikabet Müesseseleri sangat penting bagi para keturunan Nabi dari masa ke masa. Dengan adanya Nikabet Müesseleri hak hak para Habaib lebih terjaga. Keaslian dan kejelasan nasab mereka tetap terjaga. Nikabet Müesseseleri menaungi dan melindungi para Habaib karena mereka adalah orang orang mulia yang harus dihormati dan dilindungi.

Nikabet Müesseleri telah bubar ketika dinasti Utsmaniyah runtuh. Meskipun Nikabet Müesseseleri telah bubar, namun kita semua Ummat yang cinta dan hormat kepada Nabi Muhammad SAW akan selalu melindungi dan menjaga Para Habaib sebagai bentuk rasa cinta kita dan kepedulian kita kepada agama.

Semoga kita termasuk orang orang yang cinta Nabi SAW dan diakui sebagai ummatnya serta mendapatkan syafaatnya kelak aamiin.

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kediri oh Kediri, Part 1

Rabu, 25 September 2024, Saya bersama dengan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke Kediri. Kami pergi ke kediri dalam rangka menghadiri undangan pernikahan salah satu Mentor/Ustadzah MTA UIN Bandung, yaitu teh Makhyatul Fikriya yang akan menikah pada Sabtu 28 september.  Awal Mula Perjalanan Mula-mulanya berawal dari kang Nafi yang ngajak mentor-mentor untuk ikut serta ke Kediri buat kondangan. Tentu saja hal ini disambut baik oleh kami, khususnya saya yang kala itu memang sedang butuh healing alias jalan-jalan. lumayan, ada moment dan ada alasan buat keluar kota. apalagi dengan porsi budgeting yang relatif sangat murah.  Kami termasuk yang beruntung sih, karena kami dapet tiket kereta kahuripan di harga 200k, dan itu sudah PP (Pulang pergi). biasanya tiket-tiket kereta apalagi kereta yang antar provinsi mahal-mahal. bisa menyentuh angka 600k an untuk yang eksekutif, namun kali ini rejeki lagi ada di pihak kami. wkwk Malam itu juga, yang fiksasi langsung beli tiket, kare...

Dermawannya Gusti Allah itu Ga Harus Follow Dulu Kayak Influencer Jaman Sekarang

Ahmad Muzayyin Dalam dunia digital yang kita hidupi sekarang, istilah influencer sudah begitu melekat dalam keseharian. Kita sering kali melihat bagaimana para influencer, selebriti, atau konten kreator menjanjikan berbagai giveaway dan bentuk-bentuk “kedermawanan” lainnya, tetapi ada syaratnya: follow dulu ya akun gue! Seolah-olah, rasa kedermawanan ini memiliki harga, dan harga itu adalah "klik" pada tombol follow. Ini lumrah di era modern di mana perhatian, engagement, dan angka followers adalah aset yang paling berharga. Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan lebih dalam: apakah benar bahwa segala bentuk pemberian dan kebaikan harus diikuti dengan pamrih? Haruskah kebaikan dibarter dengan perhatian atau popularitas? Jika kita amati lebih jauh, dunia digital ini mencerminkan pola pikir transaksional yang semakin berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk mendapatkan sesuatu, kita mesti “membayar” dengan sesuatu yang tak melulu uang, tapi bisa berupa perhatian...

Mengkritik Atasan: Jalan Pintas Menuju 'Dikucilkan (seni halus menuju kejauhan sosial)

Di ruang-ruang rapat organisasi, baik itu korporat besar, lembaga non-profit, hingga komunitas kecil, sering kita temui fenomena yang hampir seragam: hening yang meresahkan saat kesempatan memberi masukan terbuka. Alih-alih menjadi momen diskusi kritis dan konstruktif, forum-forum ini sering kali diwarnai oleh anggukan patuh, persetujuan semu, dan bisikan-bisikan yang terpendam. Mengapa anggota kerap merasa terkungkung untuk mengungkapkan ketidaksetujuan mereka terhadap atasan? Mengapa kritik yang seharusnya sehat dianggap racun yang memecah hubungan profesional? Fenomena ini, jika dibedah secara fenomenologis, menunjukkan bahwa rasa takut dan ketidaknyamanan untuk mengkritik atasan bukanlah hal sepele. Ketakutan ini berakar pada ancaman implisit—takut dimusuhi, dijauhi, dikucilkan, atau diperlakukan berbeda setelah menyuarakan pandangan yang tak sejalan dengan pemimpin. Bagaimana mungkin organisasi bisa berkembang jika anggotanya takut berkata jujur? Ini bukan sekadar masalah komunika...