Langsung ke konten utama

JAMAK TAKSİR QİLLAH DAN JAMAK TAKSİR KASRAT

 


 

APA İTU JAMAK TAKSİR QİLLAH DAN JAMAK TAKSİR KASRAT?

Jamak qillah adalah jamak yang digunakan untuk menunjukkan bilangan antara tiga sampai sepuluh.

Sedangkan jamak kasrat adalah bentuk jamak yang menunjukkan bilangan lebih dari sepuluh hingga tak terhingga.

Apabila sebuah isim datang dalam bentuk jamak qillah maka jumlah bilangan yang ditujukan adalah antara bilangan tiga hingga sepuluh. Sebaliknya apabila sebuah isim datang dalam bentuk wazan jamak kasrat maka jumlah bilangan yang dimaksudkan oleh isim tersebut adalah lebih dari sepuluh hingga tak terhingga.[1]

 

MACAM MACAM İSİM DENGAN PEMBAGİAN JAMAKNYA.

İsim berdasarkan nilai kuantitasnya dalam bahasa Arab memiliki 3 keadaan, yaitu mufrad (untuk menunjukkan bilangan tunggal), tasniyah (untuk menunjukkan bilangan dua), dan jamak (untuk menunjukkan bilangan lebih dari 3 dan seterusnya).

İsim berdasarkan pengelompokan jamak qillah, terbagi menjadi 3 bagian.

1.     İsim yang memiliki kedua jamak tersebut baik jamak qillah maupun jamak kasrat.

Contoh :  قرء : أقراء أو قروء

 

2.     İsim yang hanya memiliki sigah jamak qillah dan tidak memiliki sigah jamak kasrat.

Contoh :   رِجلٌ : أرجل

 

3.     İsim yang hanya memiliki sigah jamak kasrat dan tidak memiliki sigah jamak qillah.

Contoh :  رجل : رجال[2]

 

KAPAN JAMAK TAKSİR QİLLAH DAPAT MEMBERİKAN MAKNA QİLLAH ?

Tidak setiap waktu wazan jamak qillah dapat memberikan makna qillah yang telah disebutkan diatas. Ada hal hal yang harus diperhatikan agar jamak qillah dapat memberikan makna qillah.

Hal hal yang harus diperhatikan diantaranya adalah sebagai berikut :

·        Wazan jamak qillah harus berbentuk mufrad (tidak beridhafat) dan harus berupa nakirah. Apabila wazan jamak qillah datang dengan beridhafat atau datang dalam bentuk marifah maka wazan jamak qillah tidak dapat memberikan makna qillah dan tidak ada perbedaan antara jamak qillah dan jamak kasrat.[3]

·        Apabila sebuah isim tidak memiliki wazan jamak selain jamak qillah (أرجل), atau tidak memiliki wazan jamak selain jamak kasrat (رجال) , atau merupakan bentuk jamak dari isim rubai (isim dengan jumlah huruf asli sebanyak 4 huruf) seperti (أجدال)  (مصانع), maka tidak ada perbedaan antara jamak qillah dan jamak kasrat. Kedua duanya setara.[4]

 

 

MACAM MACAM WAZAN JAMAK TAKSİR QİLLAH DAN JAMAK KASRAH

WAZAN JAMAK QİLLAH

 

Wazan jamak qillah terbagi menjadi 4 :

·        أفعل

مثال : نفس = أنفس . عين = أعين

·        أفعال

مثال : سيف = أسياف . عنب = أعناب

·        أفعلة

مثال : رغيف = أرغفة . عمود = أعمدة

·        فتية

مثال : فتى = فتية . صبي = صبية

 

WAZAN JAMAK KASRAT

Jamak kasrat memiliki banyak wazan. Wazan jamak diluar wazan jamak qillah bisa dikategorikan kedalam wazan jamak kasrat.

Contoh :

·        Jamak untuk muzakkar aqil (muzakkar berakal) :

·        فَعَلَةٌ = طلبة

·        فُعلاءُ = شرفاء

·        فُعَّالٌ = كتَّابٌ

·        أفعلاء = أقوياء

·        Dan seterusnya

 

 

 

·        Jamak untuk wazan (أفعل) yang memiliki wazan muannats (فعلاء)

Wazan jamak : فُعْلٌ

Contoh:

حمر, خضر,صفر,عمي,بكم

·        Dan seterusnya….

 

 

CONTOH PENGGUNAAN WAZAN JAMAK QİLLAH DAN KASRAT DALAM ALQURAN.

·        نحن أبناء الله و أحباؤه

·        لها سبعة أبواب

·        إنا لننصر رسلنا

·        ويوم يقوم الأ شهاد

·        ويوم يحشر أعداء الله

·        إنهم فتية أمنوا بربهم

 

 

 

 

 

 



[1] Al-Kafiyah, hal. 73

[2] Syarah kafiyah ibni Hajib, jilid.3 hal.468.

[3] Hasyiyah Mollla Cami, hal.308.

[4] Syarah kafiyah ibni Hajib, jilid.3 hal.468.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kediri oh Kediri, Part 1

Rabu, 25 September 2024, Saya bersama dengan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke Kediri. Kami pergi ke kediri dalam rangka menghadiri undangan pernikahan salah satu Mentor/Ustadzah MTA UIN Bandung, yaitu teh Makhyatul Fikriya yang akan menikah pada Sabtu 28 september.  Awal Mula Perjalanan Mula-mulanya berawal dari kang Nafi yang ngajak mentor-mentor untuk ikut serta ke Kediri buat kondangan. Tentu saja hal ini disambut baik oleh kami, khususnya saya yang kala itu memang sedang butuh healing alias jalan-jalan. lumayan, ada moment dan ada alasan buat keluar kota. apalagi dengan porsi budgeting yang relatif sangat murah.  Kami termasuk yang beruntung sih, karena kami dapet tiket kereta kahuripan di harga 200k, dan itu sudah PP (Pulang pergi). biasanya tiket-tiket kereta apalagi kereta yang antar provinsi mahal-mahal. bisa menyentuh angka 600k an untuk yang eksekutif, namun kali ini rejeki lagi ada di pihak kami. wkwk Malam itu juga, yang fiksasi langsung beli tiket, kare...

Dermawannya Gusti Allah itu Ga Harus Follow Dulu Kayak Influencer Jaman Sekarang

Ahmad Muzayyin Dalam dunia digital yang kita hidupi sekarang, istilah influencer sudah begitu melekat dalam keseharian. Kita sering kali melihat bagaimana para influencer, selebriti, atau konten kreator menjanjikan berbagai giveaway dan bentuk-bentuk “kedermawanan” lainnya, tetapi ada syaratnya: follow dulu ya akun gue! Seolah-olah, rasa kedermawanan ini memiliki harga, dan harga itu adalah "klik" pada tombol follow. Ini lumrah di era modern di mana perhatian, engagement, dan angka followers adalah aset yang paling berharga. Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan lebih dalam: apakah benar bahwa segala bentuk pemberian dan kebaikan harus diikuti dengan pamrih? Haruskah kebaikan dibarter dengan perhatian atau popularitas? Jika kita amati lebih jauh, dunia digital ini mencerminkan pola pikir transaksional yang semakin berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk mendapatkan sesuatu, kita mesti “membayar” dengan sesuatu yang tak melulu uang, tapi bisa berupa perhatian...

Mengkritik Atasan: Jalan Pintas Menuju 'Dikucilkan (seni halus menuju kejauhan sosial)

Di ruang-ruang rapat organisasi, baik itu korporat besar, lembaga non-profit, hingga komunitas kecil, sering kita temui fenomena yang hampir seragam: hening yang meresahkan saat kesempatan memberi masukan terbuka. Alih-alih menjadi momen diskusi kritis dan konstruktif, forum-forum ini sering kali diwarnai oleh anggukan patuh, persetujuan semu, dan bisikan-bisikan yang terpendam. Mengapa anggota kerap merasa terkungkung untuk mengungkapkan ketidaksetujuan mereka terhadap atasan? Mengapa kritik yang seharusnya sehat dianggap racun yang memecah hubungan profesional? Fenomena ini, jika dibedah secara fenomenologis, menunjukkan bahwa rasa takut dan ketidaknyamanan untuk mengkritik atasan bukanlah hal sepele. Ketakutan ini berakar pada ancaman implisit—takut dimusuhi, dijauhi, dikucilkan, atau diperlakukan berbeda setelah menyuarakan pandangan yang tak sejalan dengan pemimpin. Bagaimana mungkin organisasi bisa berkembang jika anggotanya takut berkata jujur? Ini bukan sekadar masalah komunika...