Langsung ke konten utama

MOLLA HÜSREV HZ

 MOLLA HÜSREV HZ


ORİENTASİ

Molla Hüsrev hz memiliki nama asli Mehmet bin Feramuz bin Ali Muhyiddin Hüsrevi. Beliau lahir pada awal abad ke-15 di desa Karkın kota Sivas Turki.

Molla Hüsrev hz meninggal di Istanbul pada tahun 1480 M dan dimakamkan di halaman Madrasah Hüsrev di kota Bursa.

 

PERİSTİWA

Perjalanan menuntut ilmu

Molla Hüsrev hz lahir dan melewati masa kecilnya di kota Sivas. Beliau sudah menjadi yatim sejak dini. Ayah beliau meninggal ketika  beliau kecil, kemudian Molla Hüsrev hz diasuh oleh Hüsrev Bey yang merupakan suami dari bibi beliau.

Molla Hüsrev hz tumbuh besar dibawah bimbingan Hüsrev Bey dan dididik oleh beliau.

Setelah menimba ilmu dari Hüsrev Bey, Molla Hüsrev hz pergi merantau ke kota Bursa untuk menuntut ilmu dan memperdalam keilmuannya. Beliau menimba ilmu dan memperoleh ijazah dari Yusuf Bali yang merupakan Hakim kota Bursa sekaligus putra dari seorang Ulama ternama guru Sultan Muhammad Al-Fatih yaitu Molla Fenari hz.

Selain kota Bursa, beliau juga sempat menimba ilmu di kota Edirne dari beberapa Ulama, diantaranya: Burhanuddin Haydar Harevi. Molla Yegan dan Syaikh Hamza.

Khidmat dan kontribusi terhadap pendidikan Islam

·         Setelah menyelesaikan pendidikannya, Molla Hüsrev hz menjadi seorang Mudarris untuk pertama kali-nya pada masalah Şah Melek di Edirne.

·     Selain menjadi seorang mudarris di madrasah Şah Melek beliau pun pernah mengajarkan ilmu-nya di madrasah Çelebi pada tahun 839.

·         Molla Hüsrev hz diangkat menjadi seorang Kazasker ketika Sultan Murat II meyerahkan tahtanya kepada Sultan Muhammad Al-Fatih.

·         Pada saat Sultan Murat II kembali menempati singgasananya Molla Hüsrev hz diangkat menjadi seorang Hakim bagi kota Edirne.

·         Menjadi Hakim di Istanbul menggantikan posisi hakim perdana yaitu Hızır Bey pasca penaklukkan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih.

·         Menjadi Hakim untuk Galata dan Üsküdar.

·         Menjadi Müderris pada Madrasah Ayasofya.

·         Molla Hüsrev kembali menuju Bursa dan mendirikan madrasah Hüsrev.

·         1473-1474 M Molla Hüsrev hz diundang oleh Sultan Muhammad Al-Fatih dan menjadi Mufti di Istanbul. Beliau menjadi mufti bagi Istanbul hingga wafat.

TENTANG MOLLA HÜSREV HZ

Molla Hüsrev hz merupakan sosok Ulama yang memiliki sifat yang rendah hati meskipun memiliki kekayaan harta.

Molla Hüsrev hz juga merupakan salah satu Ulama yang berpengaruh dalam perintisan madrasah Sahnı Seman.

Sultan Muhammad Al-Fatih menjuluki Molla Hüsrev hz sebagai Abu Hanifah pada zamannya. Sang Sultan menjuluki Molla Hüsrev dengan julukan tersebut dikarenakan keilmuan beliau yang sangat tinggi bagaikan Imam Abu Hanifah pada zamannya.

KARYA KARYA

Molla Hüsrev hz memiliki banyak karya diberbagai cabang ilmu, seperti Fikih, Usul Fikih, dll.

Diantara karya beliau yang masih digunakan di lembaga-lembaga pendidikan adalah kitab Miratul Usul (Usul Fikih) dan kitab Dürerül Hükkam (Fikih madzhab Hanafi).

REORİENTASİ

Molla Hüsrev hz merupakan salah satu sosok Ulama yang patut kita contoh keilmuannya. Kerajinannya dan ketekunannya dalam belajar menjadikan beliau sebagai seseorang yang memiliki disiplin ilmu yang tinggi. Disiplin ilmu inilah yang menghantarkan beliau meraih kesuksesan dalam bidang keilmuan islam sehingga beliau mendapatkan kepercayaan yang tinggi dan menjadi seorang Hakim, Mufti bahkan Syaikhul Islam sekalipun.

Molla Hüsrev hz meskipun telah menjadi seorang hakim dibeberapa kota dan menjadi mufti, beliau tetap memiliki sifat berhati rendah dan tidak pernah menganggap semua itu sebagai sebuah pencapaian, melainkan berpandangan bahwa semua hal tersebut adalah ujian semata untuk menjadi seorang Muslim yang lebih baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kediri oh Kediri, Part 1

Rabu, 25 September 2024, Saya bersama dengan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke Kediri. Kami pergi ke kediri dalam rangka menghadiri undangan pernikahan salah satu Mentor/Ustadzah MTA UIN Bandung, yaitu teh Makhyatul Fikriya yang akan menikah pada Sabtu 28 september.  Awal Mula Perjalanan Mula-mulanya berawal dari kang Nafi yang ngajak mentor-mentor untuk ikut serta ke Kediri buat kondangan. Tentu saja hal ini disambut baik oleh kami, khususnya saya yang kala itu memang sedang butuh healing alias jalan-jalan. lumayan, ada moment dan ada alasan buat keluar kota. apalagi dengan porsi budgeting yang relatif sangat murah.  Kami termasuk yang beruntung sih, karena kami dapet tiket kereta kahuripan di harga 200k, dan itu sudah PP (Pulang pergi). biasanya tiket-tiket kereta apalagi kereta yang antar provinsi mahal-mahal. bisa menyentuh angka 600k an untuk yang eksekutif, namun kali ini rejeki lagi ada di pihak kami. wkwk Malam itu juga, yang fiksasi langsung beli tiket, kare...

Dermawannya Gusti Allah itu Ga Harus Follow Dulu Kayak Influencer Jaman Sekarang

Ahmad Muzayyin Dalam dunia digital yang kita hidupi sekarang, istilah influencer sudah begitu melekat dalam keseharian. Kita sering kali melihat bagaimana para influencer, selebriti, atau konten kreator menjanjikan berbagai giveaway dan bentuk-bentuk “kedermawanan” lainnya, tetapi ada syaratnya: follow dulu ya akun gue! Seolah-olah, rasa kedermawanan ini memiliki harga, dan harga itu adalah "klik" pada tombol follow. Ini lumrah di era modern di mana perhatian, engagement, dan angka followers adalah aset yang paling berharga. Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan lebih dalam: apakah benar bahwa segala bentuk pemberian dan kebaikan harus diikuti dengan pamrih? Haruskah kebaikan dibarter dengan perhatian atau popularitas? Jika kita amati lebih jauh, dunia digital ini mencerminkan pola pikir transaksional yang semakin berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk mendapatkan sesuatu, kita mesti “membayar” dengan sesuatu yang tak melulu uang, tapi bisa berupa perhatian...

Mengkritik Atasan: Jalan Pintas Menuju 'Dikucilkan (seni halus menuju kejauhan sosial)

Di ruang-ruang rapat organisasi, baik itu korporat besar, lembaga non-profit, hingga komunitas kecil, sering kita temui fenomena yang hampir seragam: hening yang meresahkan saat kesempatan memberi masukan terbuka. Alih-alih menjadi momen diskusi kritis dan konstruktif, forum-forum ini sering kali diwarnai oleh anggukan patuh, persetujuan semu, dan bisikan-bisikan yang terpendam. Mengapa anggota kerap merasa terkungkung untuk mengungkapkan ketidaksetujuan mereka terhadap atasan? Mengapa kritik yang seharusnya sehat dianggap racun yang memecah hubungan profesional? Fenomena ini, jika dibedah secara fenomenologis, menunjukkan bahwa rasa takut dan ketidaknyamanan untuk mengkritik atasan bukanlah hal sepele. Ketakutan ini berakar pada ancaman implisit—takut dimusuhi, dijauhi, dikucilkan, atau diperlakukan berbeda setelah menyuarakan pandangan yang tak sejalan dengan pemimpin. Bagaimana mungkin organisasi bisa berkembang jika anggotanya takut berkata jujur? Ini bukan sekadar masalah komunika...