TAKWA DAN WARA
Secara bahasa takwa dan wara berarti : Menjaga diri, takut, menghindari, menjauhi sesuatu dsb. Sedangkan takwa menurut istilah adalah : beriman kepada Allah S.W.T serta menjalankan perintahnya, menjauhi larangannya dan menjauhi segala macam bentuk dosa dan itikad (keyakinan) yang salah.
Dan wara menurut istilah adalah : Menjauhi perkara syubhat (tidak memiliki kejelasan hukum) bahkan menjauhi perkara mubah yang kurang bermanfaat.
Wara merupakan kedudukan atau derajat khusus diatas takwa. Dari penj
elasan diatas dapat dipahami bahwa mencegah diri dari perkara haram dan makruh adalah takwa. Sedangkan mencegah diri dari hal hal yang bersifat syubhat dan kurang bermanfaat adalah wara. Tingkat kesulitan wara lebih tinggi daripada takwa oleh sebab itu kedudukan dan derajat wara lebih tinggi dari takwa.
Allah S.W.T vverfirman dalam Al-quran :
Ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah bagaimana arti takwa ya g sesungguhnya beliau bersabda :” Mengingat Allah, tidak melupakan Allah dan tidak durhaka kepada Allah.”
Takwa dapat mencegah seorang mumin dari keburukan dan dosa serta mendorong seorang mumin melakukan kebaikan yag diridoi oleh Allah S.W.T
Allah S.W.T berfirman :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ
artinya :” Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS Al-anfal: 29)
Syaikh Sulaiman hilmi tunahan HZ. (Ulama besar pada akhir kehilafahan ustmani) semasa hidupnya tidak pernah memakan daging sembarang tanpa mengetahui kehalalan daging tersebut secara jelas. Seseorang bercerita :”suatu hari saya bersama Syaikh Sulaiman Hilmi keluar dari salah satu masjid dan beliau(Syaikh Sulaiman) berkata bahwa dirinya sedang tidak enak badan. Sontak saya pun bertanya “tuanku apa yang sedang anda keluhkan ? apa yang membuat anda sakit?” Beliau pun menjawab” kemarin malam aku pergi bermusafir ke sebuah rumah. Mereka (tuan rumah) menghidangkaan daging kepadaku dan ketika itu aku terpaksa untuk memakannya. Oleh sebab itulah hari ini saya merasa tidak enak badan.”
Diriwayatkan, pada zaman Imam Abu Hanifah ada seekor kambing yang dikabarkan menghilang. Pencarian telah dilakukan akan tetapi tidak membuahkan hasil. Mendengar
kabar tersebut Imam Abu Hanifah khawatir daging yang akan beliau makan tercampur dengan daging kambing yang hilang itu sehingga beliau tidak memakan daging kambing selama 7 tahun (dikarenakan rata rata umur kambing adalah 7 tahun)
Syeikh Sulaiman Hilmi Tunahan mendefinisikan takwa sebagai berikut:
• Selamatnya seorang mukmin dari kekafiran dengan iman
• Selamatnya seorang mukmin dari isyan (durhaka kepada allah) dengan ibadah
• Selamatnya seorang mukmin dari kelalaian dengan rabitah dan cahaya ilahi
Setelah membaca dan memahami arti takwa dan wara, dan setelah membaca sepenggal kisah ulama yang sangat berhati hati dalam berperilaku, diharapkan kita dapat mengamalkannya di dalam kehidupan dan semoga Allah menggolongkan kita kepada kelompok orang yang bertakwa dan wara. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat. Terimakasih
SABTU 09 mei 2020

Komentar
Posting Komentar