Langsung ke konten utama

SELATİN CAMİLERİ: MASJİDNYA PARA SULTAN


 SELATİN CAMİLERİ

Oleh: Ahmad Muzayin

 Ottoman merupakan salah satu dinasti kehkalifahan terlama dan terkuat dalam sejarah Islam. Sistem pemerintahan yang berpusat di Turki menjadikan Turki sebuah negara yang penuh dengan peninggalan-peninggalan bersejarah dari masa kesultanan Seljuk hingga Ottoman. Salah satu dari harta karun sejarah yang dapat kita saksikan sampai sekarang adalah masjid masjid yang dibangun pada masa Ottoman dengan arsitekturnya yang khas. Diantara sekian banyak masjid, banyak diantaranya yang diberi nama SELATIN CAMI. Lalu apa itu selatin cami?.

Kata "Selatin" merupakan bentuk jamak dari kata "sultan" yang berarti para sultan atau kepemilikan sultan. Kemudian “selatin cami” adalah sebuah istilah untuk masjid masjid yang dibangun menggunakan dana pribadi dari para sultan, istri-istri sultan atau valide sultan {ibu dari seorang sultan}. Sebagian besar Selatin cami dapat kita temui di kota-kota besar yang pernah menjadi daerah kekuasaan Ottoman seperti Istanbul, Bursa, Edirne, Kairo dan Syam. 

Berikut adalah Selatin cami yang dapat kita temui di Istanbul:

  1. Eyup

  2. Fatih

  3. Beyazit

  4. Yavuz Sultan Selim

  5. Sehzade Başı

  6. Suleymaniye

  7. Sultan Ahmet

  8. Yeni Cami

  9. Nuru Osmaniye

  10. Laleli

  11. Uskudar Selimiye

  12. Nusretiye

  13. Mecidiye

  14. Tesvikiye

  15. Bezmi Alem Valide Sultan {Dolma Bahçe}

  16. Pertevniyal Valide Sultan{Aksaray}

  17. Ortaköy

  18. Hamidiye{Yildiz}

  19. Emirgan

  20. Beyler Beyi

YENİ CAMİ merupakan salah satu Selatin cami yang memiliki sejarah pembangunan yang panjang. Pada tahun 1597 Safiye Sultan yang merupakkan Ibu dari Sultan Mehmet III memerintahkan kepada ketua Mimar(arsitek) pada saat itu yaitu Davut Ağa untuk memulai pembangunan Yeni cami. Davut Ağa pun segera memulai pembangunan bersama anggota-anggotanya dan peletakan batu pertama terjadi pada Kamis,9 April 1598. Davut Ağa meninggal dunia setahun setelah pembangunan dimulai dan digantikan oleh Dalgıc Ahmet Cavus kemudian pembangunan berlanjut hingga bagian pencere (jendela). Pada tahun 1605 proyek pembangunan terhenti bersamaan dengan wafatnya Safiye Sultan.

Pada 24 Juli 1660 terjadi kebakaran yang sangat dahsyat yang mengakibatkan bangunan yeni cami yang belum selesai tersebut habis terbakar. Pada tahun 1661 Ibu dari Sultan Mehmet IV. Yaitu Hatice Turhan Sultan mengambil alih proyek dan melanjutkan pembangunan yang sempat terhenti tersebut. Yeni cami pada akhirnya dibuka untuk beribadah pada hari Jumat 8 Februari 1664/1665. Yeni cami melewati proses pembangunan yang sangat lama. Lamanya proses pembangunan bukanlah disebabkan oleh kekurangan dana dan kekurangan tenaga pekerja akan tetapi lebih kepada proses pembangunan yang terhenti.

Sumber: Yedi kıta, Nisan 2013.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kediri oh Kediri, Part 1

Rabu, 25 September 2024, Saya bersama dengan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke Kediri. Kami pergi ke kediri dalam rangka menghadiri undangan pernikahan salah satu Mentor/Ustadzah MTA UIN Bandung, yaitu teh Makhyatul Fikriya yang akan menikah pada Sabtu 28 september.  Awal Mula Perjalanan Mula-mulanya berawal dari kang Nafi yang ngajak mentor-mentor untuk ikut serta ke Kediri buat kondangan. Tentu saja hal ini disambut baik oleh kami, khususnya saya yang kala itu memang sedang butuh healing alias jalan-jalan. lumayan, ada moment dan ada alasan buat keluar kota. apalagi dengan porsi budgeting yang relatif sangat murah.  Kami termasuk yang beruntung sih, karena kami dapet tiket kereta kahuripan di harga 200k, dan itu sudah PP (Pulang pergi). biasanya tiket-tiket kereta apalagi kereta yang antar provinsi mahal-mahal. bisa menyentuh angka 600k an untuk yang eksekutif, namun kali ini rejeki lagi ada di pihak kami. wkwk Malam itu juga, yang fiksasi langsung beli tiket, kare...

Dermawannya Gusti Allah itu Ga Harus Follow Dulu Kayak Influencer Jaman Sekarang

Ahmad Muzayyin Dalam dunia digital yang kita hidupi sekarang, istilah influencer sudah begitu melekat dalam keseharian. Kita sering kali melihat bagaimana para influencer, selebriti, atau konten kreator menjanjikan berbagai giveaway dan bentuk-bentuk “kedermawanan” lainnya, tetapi ada syaratnya: follow dulu ya akun gue! Seolah-olah, rasa kedermawanan ini memiliki harga, dan harga itu adalah "klik" pada tombol follow. Ini lumrah di era modern di mana perhatian, engagement, dan angka followers adalah aset yang paling berharga. Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan lebih dalam: apakah benar bahwa segala bentuk pemberian dan kebaikan harus diikuti dengan pamrih? Haruskah kebaikan dibarter dengan perhatian atau popularitas? Jika kita amati lebih jauh, dunia digital ini mencerminkan pola pikir transaksional yang semakin berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk mendapatkan sesuatu, kita mesti “membayar” dengan sesuatu yang tak melulu uang, tapi bisa berupa perhatian...

Mengkritik Atasan: Jalan Pintas Menuju 'Dikucilkan (seni halus menuju kejauhan sosial)

Di ruang-ruang rapat organisasi, baik itu korporat besar, lembaga non-profit, hingga komunitas kecil, sering kita temui fenomena yang hampir seragam: hening yang meresahkan saat kesempatan memberi masukan terbuka. Alih-alih menjadi momen diskusi kritis dan konstruktif, forum-forum ini sering kali diwarnai oleh anggukan patuh, persetujuan semu, dan bisikan-bisikan yang terpendam. Mengapa anggota kerap merasa terkungkung untuk mengungkapkan ketidaksetujuan mereka terhadap atasan? Mengapa kritik yang seharusnya sehat dianggap racun yang memecah hubungan profesional? Fenomena ini, jika dibedah secara fenomenologis, menunjukkan bahwa rasa takut dan ketidaknyamanan untuk mengkritik atasan bukanlah hal sepele. Ketakutan ini berakar pada ancaman implisit—takut dimusuhi, dijauhi, dikucilkan, atau diperlakukan berbeda setelah menyuarakan pandangan yang tak sejalan dengan pemimpin. Bagaimana mungkin organisasi bisa berkembang jika anggotanya takut berkata jujur? Ini bukan sekadar masalah komunika...