Langsung ke konten utama

MUQABALAH: TRADISI RAMADHAN SEJUTA UMAT


MUQABALAH: TRADISI RAMADHAN SEJUTA UMAT

Ramadhan telah tiba. Siapa yang tidak bergembira ketika menyambut bulan Ramadhan ini.

Semuanya pasti sangat gembira ketika bulan Ramadhan tiba. Karena dibulan ini banyak aktifitas yang

jarang kita temui diluar Ramadhan mulai dari kegiatan bukber, sahur bareng, ngabuburit, sampai

pasar ramdahan yang menyajikan jajanan iftar yang menggoda.

Selain itu Ada banyak kegiatan masyarakat yang dapat di lakukan di bulan penuh berkah

ini. Mulai dari kuliah subuh, kegiatan bakti sosial, shalat tarawih, kultum dan muqabalah atau lebih

akrab dengan sebutan tadarusan atau simakan quran

Dibulan ini banyak orang yang berlomba lomba menghatamkan Al-Qur’an dikarenakan bulan

Ramadhan adalah bulan dimana Al-Qur’an itu sendiri turun dan segala bentuk amal kebaikan akan

dilipatgandakan. Lalu apa itu muqabalah?

Muqabalah secara bahasa berarti pertemuan, tatap muka, atau saling berhadapan.

Sedangkan istilah muqabalah yang sering kita dengar adalah kegiatan membaca Al-Qur’an yang

didengarkan oleh beberapa orang atau banyak orang (jamaah).


Kegiatan membaaca Al-Qur’an seperti ini sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW.

Diriwayatkan bahwa ketika Ramadhan tiba malaikat jibril datang kepada Rasulullah dan membaca

ayat dan surat surat Al-Qur’an yang telah diturunkan hingga saat itu. Disisi lain Rasulullah SAW

mendengarkan dengan khusyu bacaan malaikat jibril tersebut.

Pada Ramadhan terakhir sebelum Rasulullah SAW meninggal, muqabalah dilakukan

sebanyak 2 kali dan peristiwa tersebut dinamakan ‘Arzai ahire’. Sebagian sahabat juga

mengamalkan muqabalah ini dan ketika bulan Ramadhan tiba mereka mengumpulkan keluarganya

kemudian membaca Al-Qur’an dengan cara muqabalah seperti yang dilakukan Malaikat jibril dan

Rasulullah SAW.

Budaya muqabalah terus berlanjut dan di amalkan hingga hari ini. Di masa kerajaan islam

masih berdiri, aktifitas muqabalah di lakukan juga di istana istana kerajaan oleh para penghafal Al-

Qur’an. Diriwayatkan dari Ibnu halikan bahwa istri khaalifah Harun arrasyid memiliki kurang lebih

100 jariyah(budak perempuan) penghafal Al-Qur’an dan istri khalifah selalu mendengarkan bacaan

Al-Qur’an mereka. Sultan Salim han III.(salah satu sultan di kesultanan ustmani) selalu mengikuti

kegiatan muqabalah yang dilakukan di dekat makam Abu ayyub alansari, atau di istananya dan

diriwayatkan kalau sebagian bacaan Al-Qur’an dibaca dengan qiraah sab’ah.

Di Makedonia dan sebagian negeri balkan lainnya, masyarakat muslim disana memulai

muqabalah ketika memasuki 3 bulan mulia (Rajab, Syaban dan Ramadhan) dan menghatamkannya

berkali kali. Di Istanbul pada zaman kehalifahan muqabalah dimulai 15 hari sebelum memasuki

Ramadhan dan doa kahatamannya di baca waktu asar sebelum malam lailatul qadr (hari ke 27

Ramadhan).

Di Turki sekarang, budaya muqabalah dimulai pada awal Ramadhan dan diselesaikan

kemudian doanya dibaca sehari sebelum memasuki hari raya. Terkadang juga doa khatamannya

dibaca ketika malam lailatul qadr.


Semua orang bisa bermuqabalah. Muqabalah paling sedikit di lakukan oleh 2 orang salah

satunya membaca Al-Qur’an sedangkan yang lain mendengarkan. Muqabalah juga sering dibaca oleh

para penghafal Al-Qur’an. Mereka membacanya dengan hafalan mereka. Hal ini juga merupakan

kesempatan bagi para penghafal Al-Qur’an untuk memperkuat hafalannya dan melatih mental

supaya berani membaca di depan umum.

Terkadang ada beberapa pemerintahan yang menetapkankan imam atau muadzin untuk

membaca Al-Qur’an. Salah satunya pada masa kehilafahan ustmani mereka yang di tetapkan

pemerintah untuk membaca dikenal dengan sebutan ‘cüzhan’ dan mereka membaca Al-Qur’an terus

menerus setiap sebelum shalat 5 waktu.

Mukabalah tidak hanya dilakukan pada bulan Ramadhan saja. Diluar bulan Ramadhan pun

muqabalah bisa dilakukan. Di musium topkapı isntanbul tepatnya di blok ‘Hırkai saadet’ setiap

harinya selalu dibacakan Al-Qur’an dengan cara muqabalah oleh orang orang yang ditugaskan.

Seperti yang di jelaskan di atas ada beberapa negara juga yang masyarakat muslimnya memulai

bermuqabalah di 3 bulan mulia tersebut. Namun karena Al-Qur’an itu sendiri diturunkan di bulan

Ramadhan maka kita sering menemui aktifitas muqabalah ini di bulan Ramadhan.

Kegiatan muqabalah ini juga tidak terikat dengan masjid saja. Muqabalah juga dapat

dilakukan di madrasah, rumah bahkan di zaman teknologi seperti sekarang muqabalah dapat

dilakukan via radio, atau siaran televisi.

Seperti yang kita ketahui muqabalah adalah kegiatan membaca dan mendengarkan Al-

Qur’an Maka kegiatan ini memiliki banyak sekali keutamaan dan manfaat. Bagi pembacanya akan

diberikan pahala yang sangat berlimpah sesuai dengan hadis rasulullah SAW . beliau bersabda

عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ

بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ   Artinya: Dari ‘Abdullah ibn Mas‘ud,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-

Qur’an), maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada

sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lâm mîm satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lâm

satu huruf, dan mîm satu huruf,” (HR. At-Tirmidzi).  

Sedangkan bagi pendengar ia akan mendapatkan rahmat dari allah SWT.

İni baru sebagian dari keutamaan membaca dan mendengarkan Al-Qur’an masih banyak lagi

keutamaan-keutamaan lainnya seperti diturunkannya rahmat, maghfirah, dan rasa aman ke tempat

yang dibacakan Al-Qur’an didalamnya, Al-Qur’an akan menjadi syafaat bagi pembacanya,

pembacanya digolongkan kepada Ahlullah dan masih banyak lagi.

setelah kita baca penjelasan diatas, kita jadi tau lebih banyak lagi tentang muqabalah,

budaya muqabalah yang beragam dikalangan masyarakat muslim, dan keutamaan membaca serta

mendengarkan Al-Qur’an. Jadi masih mau ketinggalan dengan mereka yang sudah berkali kali

menghatamkan Al-Qur’an? Ayo biasakan membaca dan mendengarkan Al-Qur’an.

Rabu, 13 mei 2020

Refrensi:

Türkiye diyanet vakfı islâm ansiklopedisi

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kediri oh Kediri, Part 1

Rabu, 25 September 2024, Saya bersama dengan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke Kediri. Kami pergi ke kediri dalam rangka menghadiri undangan pernikahan salah satu Mentor/Ustadzah MTA UIN Bandung, yaitu teh Makhyatul Fikriya yang akan menikah pada Sabtu 28 september.  Awal Mula Perjalanan Mula-mulanya berawal dari kang Nafi yang ngajak mentor-mentor untuk ikut serta ke Kediri buat kondangan. Tentu saja hal ini disambut baik oleh kami, khususnya saya yang kala itu memang sedang butuh healing alias jalan-jalan. lumayan, ada moment dan ada alasan buat keluar kota. apalagi dengan porsi budgeting yang relatif sangat murah.  Kami termasuk yang beruntung sih, karena kami dapet tiket kereta kahuripan di harga 200k, dan itu sudah PP (Pulang pergi). biasanya tiket-tiket kereta apalagi kereta yang antar provinsi mahal-mahal. bisa menyentuh angka 600k an untuk yang eksekutif, namun kali ini rejeki lagi ada di pihak kami. wkwk Malam itu juga, yang fiksasi langsung beli tiket, kare...

Dermawannya Gusti Allah itu Ga Harus Follow Dulu Kayak Influencer Jaman Sekarang

Ahmad Muzayyin Dalam dunia digital yang kita hidupi sekarang, istilah influencer sudah begitu melekat dalam keseharian. Kita sering kali melihat bagaimana para influencer, selebriti, atau konten kreator menjanjikan berbagai giveaway dan bentuk-bentuk “kedermawanan” lainnya, tetapi ada syaratnya: follow dulu ya akun gue! Seolah-olah, rasa kedermawanan ini memiliki harga, dan harga itu adalah "klik" pada tombol follow. Ini lumrah di era modern di mana perhatian, engagement, dan angka followers adalah aset yang paling berharga. Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan lebih dalam: apakah benar bahwa segala bentuk pemberian dan kebaikan harus diikuti dengan pamrih? Haruskah kebaikan dibarter dengan perhatian atau popularitas? Jika kita amati lebih jauh, dunia digital ini mencerminkan pola pikir transaksional yang semakin berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk mendapatkan sesuatu, kita mesti “membayar” dengan sesuatu yang tak melulu uang, tapi bisa berupa perhatian...

Mengkritik Atasan: Jalan Pintas Menuju 'Dikucilkan (seni halus menuju kejauhan sosial)

Di ruang-ruang rapat organisasi, baik itu korporat besar, lembaga non-profit, hingga komunitas kecil, sering kita temui fenomena yang hampir seragam: hening yang meresahkan saat kesempatan memberi masukan terbuka. Alih-alih menjadi momen diskusi kritis dan konstruktif, forum-forum ini sering kali diwarnai oleh anggukan patuh, persetujuan semu, dan bisikan-bisikan yang terpendam. Mengapa anggota kerap merasa terkungkung untuk mengungkapkan ketidaksetujuan mereka terhadap atasan? Mengapa kritik yang seharusnya sehat dianggap racun yang memecah hubungan profesional? Fenomena ini, jika dibedah secara fenomenologis, menunjukkan bahwa rasa takut dan ketidaknyamanan untuk mengkritik atasan bukanlah hal sepele. Ketakutan ini berakar pada ancaman implisit—takut dimusuhi, dijauhi, dikucilkan, atau diperlakukan berbeda setelah menyuarakan pandangan yang tak sejalan dengan pemimpin. Bagaimana mungkin organisasi bisa berkembang jika anggotanya takut berkata jujur? Ini bukan sekadar masalah komunika...