Langsung ke konten utama

MANA YANG BENAR? SYARAH ATAU KİTAB?

 

MENCOBA MEMAHAMİ KONTRADİKSİ ANTARA SYARAH DAN KİTAB

Oleh: Ahmad Muzayyin



Kitab bina merupakan kitab bahasa arab yang membahas tentang ilmu sharaf dengan pendekatan menggunakan metode penjabaran bab-bab yang ada pada ilmu sharaf.

Ada 35 bab dalam ilmu sharaf yang dibahas di dalam kitab bina ini. Pembahasannya sangat sistematis karena setiap babnya dijabarkan dengan jelas dan menggunakan bahasa yang tidak bertele tele sehingga mudah untuk dihafal dan diingat. Pada setiap babnya dibahas wazan, mauzun, bina serta contoh dari masing masing bab tersebut.

Dari sekian banyak bab yang ada, terdapat satu bab yang menarik, dikarenakan terdapat kontradiksi antara ibaroh yang tertulis pada matan kitab dan ibaroh yang tertulis pada syarah kitabnya sehingga menimbulkan interpretasi yang berbeda. Bab tersebut adalah bab تسلقى (dibaca tasalqa) yang dibahas pada pembahasan ملحق تدخرج (dibaca mulhaq tadakhraja).


KONTRADİKSİ İBAROH SYARAH DAN KİTAB

Ketika kita membuka lembaran kitab bina hal.228-229 maka kita akan menjumpai pembahasan bab ملحق تدخرج (dibaca mulhaq tadakhraja) dan pembahasan wazan تسلقى. Anda tidak akan menjumpai sesuatu yang aneh apabila anda hanya membaca ibaroh begitu saja tanpa memperhatikan dengan tajam dan seksama ibaroh yang ada pada hal.229 tersebut. Anda juga tidak akan menemukan hal yang bersifat kontradiktif tanpa membaca syarah dari kitab tersebut.

Pada matan di dalam kitab bina hal.229 terdapat ibaroh yang berbunyi:

و بناؤه للازم نحو تسلقى زيد اي نام على قفاه

Sedangkan pada syarahnya terdapat ibaroh yang berbunyi:

وبناؤه للمطاوعة نحو تسلقى زيد

perbedaan yang terdapat diantara kedua ibaroh tersebut terletak pada:

  • Bina. Bina yang terdapat pada matan kitabnya adalah lazim sedangkan bina yang terdapat pada syarah adalah muthawaah. kedua keduanya memiliki interpretasi yang berbeda.
  • Perbedaan kedua terletak pada kalimat اى نام على قفاه. Pada kitab terdapat kalimat tersebut sedangkan tidak ada satupun Syarih (penulis syarah) yang mencantumkan kalimat tersebut pada syarahnya.
Lalu mana yang benar diantara keduanya? Apakah pernyataan dalam kitab atau pernyataan dalam syarah?

Untuk dapat mengetahui dengan lebih jelas mana yang lebih benar diantara kedua ibaroh yang berbeda tersebut, maka kita perlu untuk mengetahui arti kata asal dari kata تسلقى yaitu سلق (dibaca salaqa) yang menjadi contoh pada ibaroh tersebut.


ARTİ KATA سلق

Kata سلق memiliki makna yang beragam diantaranya adalah:

  • Mencaci atau menghina. Contoh: سَلَقُوكُم بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ
  • Menjatuhkan seseorang hingga terkapar. Contoh: القاه على ظهره
  • Merebus. Contoh:  سلقت البقلة او البيض


PENYELESAİAN MASALAH

Kata سلق memiliki makna yang beragam. Dapat bermakna menghina dan dapat juga bermakna menjatuhkan. Meskipun memiliki makna yang berbeda akan tetapi keduanya menunjukkan bina yang sama yaitu تعدية (dibaca tadiyah).

Lalu pada bab تسلقى bina mana yang benar? Apakah bina lazim seperti yang tercantum pada kitab atau muthawaah yang tertulis dalam syarah?

Kedua bina tersebut bisa menjadi benar dengan pemaparan yang berbeda. Jika bina yang dimaksudkan adalah bina lazim seperti yang terdapat pada kitab maka arti kata asal سلق yang digunakan adalah makna menjatuhkan dan kalimat اى نام على قفاه datang sebagai penjelas.

Sedangkan apabila bina yang dimaksudkan adalah muthawaah seperti yang tercantum dalam syarah, maka makna asal kata (سلق)  yang digunakan adalah menghina sehingga eksistensi kalimat اى نام على قفاه tidak diperlukan lagi karena tidak memiliki korelasi antara pembahasan dan contoh.


JAWABAN MANA YANG LEBİH MENDEKATİ KEBENARAN?

İbaroh yang lebih mendekati kebenaran adalah ibaroh pada syarah yang menyatakan bahwa bina bab تسلقى adalah muthawaah.

Hal tersebut dikarenakan seluruh versi syarah bina (Ada 4 versi) menyatakan secara kolektif bahwa bina dari bab تسلقى adalah muthawaah dan tidak ada satupun syarah  yang menyatakan bahwa bina dari bab tasalqa  untuk lazim.

Pengakuan dari salah satu Hoca Efendi senior asrama Çamlıyayla juga memperkuat pernyataan bahwa bina bab tasalqa adalah muthawaah. Beliau mengaku bahwa ketika mempelajari bab tersebut pada masanya, gurunya mengganti kata lazim yang terletak pada ibaroh dengan kata muthawaah dan menghapus kalimat اى نام على قفاه dengan alasan seperti yang telah dijelaskan. 

Kesimpulannya adalah baik ibaroh yang terdapat pada kitab bina maupun ibaroh yang terletak pada syarahnya, keduanya sama sama benar dan akuntabel. Anda dapat memilih salah satu darinya jangan dua duanya nanti malah tabrakan. Jika anda memilih pernyataan yang terdapat pada syarah maka anda harus mengubah kata lazim menjadi muthawaah dan menghilangkan kalimat اى نام على قفاه. Apabila anda memilih pernyataan yang terdapat pada kitab maka anda tidak perlu lagi repot repot melakukan apapun. Anda hanya perlu menjelaskan dengan tepat apabila ada seorang pelajar yang iseng baca catatan kaki no.8 pada hal.228 dan mencoba menanyakan apa yang ia pahami dari catatan tersebut  kepada anda.


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kediri oh Kediri, Part 1

Rabu, 25 September 2024, Saya bersama dengan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke Kediri. Kami pergi ke kediri dalam rangka menghadiri undangan pernikahan salah satu Mentor/Ustadzah MTA UIN Bandung, yaitu teh Makhyatul Fikriya yang akan menikah pada Sabtu 28 september.  Awal Mula Perjalanan Mula-mulanya berawal dari kang Nafi yang ngajak mentor-mentor untuk ikut serta ke Kediri buat kondangan. Tentu saja hal ini disambut baik oleh kami, khususnya saya yang kala itu memang sedang butuh healing alias jalan-jalan. lumayan, ada moment dan ada alasan buat keluar kota. apalagi dengan porsi budgeting yang relatif sangat murah.  Kami termasuk yang beruntung sih, karena kami dapet tiket kereta kahuripan di harga 200k, dan itu sudah PP (Pulang pergi). biasanya tiket-tiket kereta apalagi kereta yang antar provinsi mahal-mahal. bisa menyentuh angka 600k an untuk yang eksekutif, namun kali ini rejeki lagi ada di pihak kami. wkwk Malam itu juga, yang fiksasi langsung beli tiket, kare...

Dermawannya Gusti Allah itu Ga Harus Follow Dulu Kayak Influencer Jaman Sekarang

Ahmad Muzayyin Dalam dunia digital yang kita hidupi sekarang, istilah influencer sudah begitu melekat dalam keseharian. Kita sering kali melihat bagaimana para influencer, selebriti, atau konten kreator menjanjikan berbagai giveaway dan bentuk-bentuk “kedermawanan” lainnya, tetapi ada syaratnya: follow dulu ya akun gue! Seolah-olah, rasa kedermawanan ini memiliki harga, dan harga itu adalah "klik" pada tombol follow. Ini lumrah di era modern di mana perhatian, engagement, dan angka followers adalah aset yang paling berharga. Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan lebih dalam: apakah benar bahwa segala bentuk pemberian dan kebaikan harus diikuti dengan pamrih? Haruskah kebaikan dibarter dengan perhatian atau popularitas? Jika kita amati lebih jauh, dunia digital ini mencerminkan pola pikir transaksional yang semakin berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk mendapatkan sesuatu, kita mesti “membayar” dengan sesuatu yang tak melulu uang, tapi bisa berupa perhatian...

Mengkritik Atasan: Jalan Pintas Menuju 'Dikucilkan (seni halus menuju kejauhan sosial)

Di ruang-ruang rapat organisasi, baik itu korporat besar, lembaga non-profit, hingga komunitas kecil, sering kita temui fenomena yang hampir seragam: hening yang meresahkan saat kesempatan memberi masukan terbuka. Alih-alih menjadi momen diskusi kritis dan konstruktif, forum-forum ini sering kali diwarnai oleh anggukan patuh, persetujuan semu, dan bisikan-bisikan yang terpendam. Mengapa anggota kerap merasa terkungkung untuk mengungkapkan ketidaksetujuan mereka terhadap atasan? Mengapa kritik yang seharusnya sehat dianggap racun yang memecah hubungan profesional? Fenomena ini, jika dibedah secara fenomenologis, menunjukkan bahwa rasa takut dan ketidaknyamanan untuk mengkritik atasan bukanlah hal sepele. Ketakutan ini berakar pada ancaman implisit—takut dimusuhi, dijauhi, dikucilkan, atau diperlakukan berbeda setelah menyuarakan pandangan yang tak sejalan dengan pemimpin. Bagaimana mungkin organisasi bisa berkembang jika anggotanya takut berkata jujur? Ini bukan sekadar masalah komunika...