Langsung ke konten utama

İBNU HAJİB

 

Abu amr Jamaluddin


Oleh:alfaqir

 


Ilustrasi. Kütüphane 

Dari Dulu kita sudah sering Mendengar dan terbiasa dengan kitab “Kafiyah”. Sebabnya waktu kita belajar  nahwu di grup ibtidai Abi kita sering banget menyisipkan kaidah tambahan dari kitab lain dan yang paling sering disebut adalah kafiyah. Mereka selalu Mengatakan kalau nantinya kalian akan tahu dan lebih paham ketika mulai membacanya. Siapa sih yang gak kenal dengan kitab legendaris ini? Kitab yang selalu menjadi rujukan Ahli Nahwu. Kitab yang  saking pentingnya dari sejak kita belajar di ibtidai selalu disebut sebut. Semua santri sulaimaniyah pasti tahu Meskipun pas belajar dulu sering teledor kurang perhatin Abi yang jelasin. Cuman, pernah gak sih kita penasaran siapa dia dibalik maha karya yang masyhur ini? Tahu gak sih kalau beliau merupakan ulama sangat masyhur pada zamannya! Seberapa tahu kita tentang kehidupannya? Atau jangan jangan kita hanya membaca karyanya saja tanpa mengetahui siapa penulisnya. Lalu siapakah dia sebenarnya?


 

 

Dia adalah Utsman bin Umar bin Abu Bakar bin Yunus. Dia memiliki laqab Jamaluddin dan julukan Abu Amr. Tapi dia lebih dikenal dengan sebutan “Ibnu Hajib” yang berarti putra dari seorang hajib. Lalu apa itu hajib? Secara bahasa hajib berarti perantara, kemudian digunakan pada masa kehalifahan Islam sebagai istilah bagi orang terdekat sultan yang menjadi perantara untuk pertemuan antara sultan dan rakyatnya. Konon ayah Ibnu Hajib merupakan hajib dari Izuddin Musak As-salahi yang merupakan amir negeri Kus sekaligus putra pamannya shalahuddin Al-ayyubi. Oleh sebab itu beliau lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Hajib.

Kelahiran

Pada tahun 570 H (1175 M) di negeri piramida alias Mesir tepatnya di kota Isna yang terhubung dengan daerah kus Ibnu Hajib dilahirkan. Menurut suatu riwayat, Ayah Ibnu Hajib merupakan keturunan asli kurdi. Dan ada juga yang mengatakan kalau keluarganya berkebangsaan Tiflis yang merupakan ibu kota dan kota terbesar di Negara Georgia yang terletak di tepi Sungai Kura.

Ilmu ilmu yang dikuasai

Siapa yang tidak tahu kemasyhuran Ibnu Hajib. Tidak hanya ahli dalam bidang nahwu, beliau juga merupakan ahli pada bidang ilmu lainnya,lho. Lalu bagaimana perjalanan menuntut ilmunya ?

Perjalanannya ia mulai dengan pergi ke Kairo bersama ayahnya ketika masih Kecil. Beliau  mulai menimba  disana hingga menguasai banyak cabang ilmu. Dimulai dari ilmu bahasa dan sastra yang ia pelajari dari Muhammad bin Umar Albanna. Diikuti dengan ilmu Qiraat Sab’ah, ilmu fikih usul fikih, ilmu Arudz, ilmu Mantik dan lainnya.

·         untuk ilmu fikih dan usul fikihnya ia pelajari dari ulama seperti Abul Mansur Al-Abyari, Abul Hasan Syamsuddin Ali bin Ismail Al-Abyari, Ibnu Jubair, Halil bin Saada Al- Huwayyi.

·         Ilmu qiraat dan qiraat sab’ah ia kuasai dari Imam Satibi(Taysir dan Asy-syatibiyyah),Al- Ghaznawi(Abul Fazl Bahauddin muhammad bin Yusuf Al-Ghaznawi dari kitab Al mubhij fil qiraati sam'an,), Abul Jud Gyas bin Faris Al-Lahmi (Qiraah sabah). Sungguh luarbiasa maka tidak diherankan lagi  kenapa ia bisa menjadi seorang ulama besar. Karena gurunya pun merupakan orang-orang hebat.

Hizmet dan perjalanannya

Setelah selesai masa pendidikannya, menurut catatan kitab Al-Amali karangannya, Ibnu Hajib mulai mengawali Pengabdian dan mengajarkan ilmunya pada tahun 609 H (1212) di madrasah Fadhiliyyah (Kairo). Setelah itu Beliau bermaksud untuk melakukan perjalanan keluar Kairo menuju Syam. Dalam perjalanannya beliau singgah di Kudus Palestina beberapa bulan dan melanjutkan perjalannya hingga sampai di Damaskus Syiria pada tahun 617 H(1220).

Ibnu Hajib merupakan ulama bermazhab Maliki, lho. Setelah sampainya di Damaskus Ibnu Hajib melanjutkan pengabdiannya dengan mengajarkan ilmunya di salah satu bagian masjid Amawiyyah yang mana bagian tersebut dikhususkan untuk mempelajari ilmu fikih mazhab Maliki.

Pada tahun 633 H(1235) Ibnu Hajib pergi menuju daerah Kerek (salah satu daerah di Jordania) untuk memenuhi panggilan Al-Malikunnasir Daud bin Isa yang merupakan pemimpin negeri Kerek pada zamannya. Disinilah Ibnu Hajib menulis nadham nahwu yang kemudian menjadi kitab dan diberi nama syarhul wafiyah fi Nazmil Kafiyah. Setelah menyelesaikan kitabnya tersebut dan Beliau ajarkan kepada sang amir, Ibnu Hajib kembali pulang menuju Damaskus dan di akhir umurnya Ibnu Hajib melakukan perjalanan ke Iskandariya Kemudian menetap disana.

Kata ulama

Meski telah melewati perjalanan menuntut ilmu yang panjang hingga menjadi ulama yang besar dan terkemuka pada zamannya, tetaplah Ibnu Hajib merupakan Sosok ulama yang sangat tawadhu dan sangat mencintai ahli ilmu. Syihabuddin Addamasyqi dalam kitabnya zaili rawdhatain mengatakan”Beliau (Ibnu Hajib) merupakan ulama yang masyhur dalam Islam. Beliau merupakan orang yang memiliki kecerdasan  yang tinggi serta ilmu yang mendalam terhadap ilmu-ilmu usul, bahasa arab, dan fikih maliki. Beliau juga kuat fisiknya, tawadhu, kuat dalam menghadapi masalah, menjaga kehormatannya dan merupakan ulama yang mencintai ahli ilmu”.

Ketika Ibnu Hajib terkenal di dunia Islam Timur dengan karya bahasa arabnya, di belahan dunia Islam Barat ia sangat dikenal dengan keahliannya di bidang fikih dan usul fikih. Ibnu Hallikan merupakan ulama yang sering bertemu dengan Ibnu Hajib ketika di Kairo mengatakan”Setiap bertemu dengan Ibnu Hajib, aku selalu bertanya permasalahan yang sangat rumit mengenai fikih, bahasa arab, adab (sastra arab) yang tidak dapat aku pecahkan dan aku selalu mendapatkan jalan keluar dan jawaban yang sangat memuaskan”.

Karya tulisnya

Kalau dikatakan  “Ibnu Hajib” pasti satu satunya kitab yang kita ketahui adalah kafiyah. Tahu gak sih sebenarnya Ibnu Hajib merupakan penulis unggul loh!. Karyanya bukan hanya kafiyah saja dia punya banyak kitab. Karyanya bahkan sampai tersohor ke negeri Barat Eropa sana. Sebagai contoh karya beliau tentang ilmu Arudh yang bernama Al Maksadul- jalil fi ‘ilmil-halil, karya tersebut diterjemahkan kedalam bahasa jerman oleh Georg wilhelm freytag dan di beri nama Darstellung der arabischen verskunst. Sungguh luar biasa . ini baru salahsatu dari karya karya luarbiasanya. Lalu bagaimana dengan  lainnya. Penasarankan ?

Tampilan depan Darstellung der arabischen verskunst.

  Ok, karena kalian sudah penasaran langsung saja kita mulai dari karya Ibnu Hajib di bidang ilmu nahwu.

A.     Nahwu; 1. Alkafiyah. Ya kitab ini sudah tidak asing kagi bagi kita kita, namun kalian tau gak kalau kafiyah ini merupakan salah satu kitab nomor 1 yang terbaik dalam ilmu nahwu. Gak cukup sampai disitu, kerennya  kitab kafiyah memiliki sekitar 150 syarah( kebanyakan bahasa arab, sebagiannya bahasa Turki dan Persia)yang ditulis oleh Banyak ulama, kalau kita mungkin Tahunya cuman Molla jami, atau beberapa syarah yang lain. belum selesai sampai disini! Dari sekian banyak syarahnya, setiap syarah memiliki hasyiyah-nya masing-masing dan beberapa ta’liq ditulis untuk hasyiyah-hasyiyah tersebut. Sungguh menakjubkan. Kitab kafiyah berkali kali di cetak di Roma, Floransa, Istanbul, Bulak, Kairo, Kazan, tasykent, Beirut, Bombay, leknew, kalküta, Delhi dan kanpur. Dan berkali kali diterjemahkan ke bahasa Turki dan Farisi.

Kalian Tahu Nggak bagaimana kafiyah bisa terbentuk ?

 Jadi Al-kafiyah merupakan kitab terakhir dari 3 kitab dasar bahasa arab (Nahwu). Yang pertama dari 3 kitab tersebut adalah alkitab yang ditulis oleh Imam Sibawaih. Kitab tersebut sangat rumit sehingga diringkas oleh Imam Zamahsyari dan  kitabnya diberi nama Almufassal. Kemudian Imam Ibnu Hajib meringkasnya lagi dan mengambil kaidah terkait ilmu nahwu kemudian diberi nama Al-kafiyah dan menempatkan kaidah terkait ilmu Sharraf pada kitabnya yang kemudian diberi nama Asy-syafiyyah.

Kitab kafiyah secara umum mencantumkan kaidah-kaidah nahwu Basrah, tapi terkadang juga Ibnu Hajib mencantumkan kaidah-kaidah Kuffah. Pada kitab Kafiyah Ibnu Hajib sering sekali menukil pendapat ulama lainnya juga, pasti kalian sering menjumpai nama nama berikut; Abu Amr bin Ala, Halil bin Ahmad, Sibawaih, Yunus bin Habib, Ali bin Hamzah Alkisai, Yahya bin Ziyad Alfarra, Ahfasy Al-Awsath, Abu Ustman Almazini, Mubarrad, Ibnu Kaysan dan Imam Zujaj. Sudah tidak asing lagi kan dengan beliau beliau? Belum selesai sampai disini didalam kitab Kafiyah pun terdapat 14 ayat sebagai penerang, 13 syiir dan 8 pribahasa bahasa arab. Sungguh luarbiasa.

Kita pasti tau kitab Majmuatunnahwu, di dalamnya terdapat kitab Awamil, Izhar dan Kafiyah, penulis Awamil dan Izhar adalaj Imam Birgiwi, lalu kenapa kitabnya dijadikan satu dengan kitab Kafiyah? Singkatnya karena dulu, di zaman kekhilafahan Ustmani kitab Kafiyah ini diajarkan setelah santri Menyelesaikan kedua kitab tersebut dan adat tersebut terus berlanjut hingga saat ini, oleh karena itu ketiganya di cetak menjadi satu kitab.

2.SYARHUL-KAFIYAH.

3.SYARHUL-WAFIYAH FI NAZMIL-KAFIYAH

4.AL-IZAH FI SYARHIL MUFASSAL

5.AL-QASIDATUL-MUWASY-SYAHA BIL-ASMMAIL-MUANNASATIS-SAMAIYAH

6.AL-AMALIN-NAHWIYYAH

7.RISALAH FIL-ASYR

B. SHARRAF;

1.      Asy-syafiyah

2.      Syarhu asy-syafiyaah

3.      Jamalul-arab fi ilmil adab.

C. Fikih dan Usul fikih:

1.      Muntahas-sual wal amal fi ilmil-usul wal jadal

2.      Almuhtasar

3.      Jami’ul Ummahat

Sungguh luarbiasa keahliannya dalam menulis pun telah ia tunjukkan dan kita saksikan pada karya-karya nya .

 

Akhir hayat

 Iskandaria,26 Syawwal 646 (11 februari 1249), merupakan tanggal bersejarah dimana dunia Islam Timur dan Barat, para ahli lughat, para alim ulama berduka. Ya, di hari itu sang Jamaluddin Utsman bin Umar, dipanggil oleh sang khaliq dan melanjutkan perjalanannya kehadiratnya. Beliau dikubur di dekat Ibnu Abi Syabah. Kuburannya terletak di lantai bawah dari masjid Abul Abbas Almursi, Iskandaria. Ia pergi dari dunia ini dengan mewariskan kepada kita semua sebagai generasi penerus karya nya yang gemilang, kepergiannya meninggalkan sedih yang mendalam bagi kalangan ahli ilmu pada zamannya, cerita akan keberhasilannya akan selalu dikenang, karyanya tidak akan pernah usang dan seterusnya akan menjadi mata air bagi mereka yang haus akan ilmu.

 Setelah membaca tentang kehidupannya kita jadi tau  lebih banyak fakta tentang Ibnu Hajib. Pepatah berkata”Tak kenal maka  tak sayang”. Semoga artikel ini bisa membuat kita semakin kenal dengan sang musannif kafiyah ini sehingga kita lebih cinta dan semangat lagi Ketika buka  lembaran kafiyah untuk mengulang, salah satu dari kalian mungkin akan dikasih tugas Untuk memgajarkan kafiyah nantinya, sebelum mulai mengajar, sepertinya artikel ini cocok banget buat kalian ceritain ke santri biar mereka lebih tau dan sadar akan kearifan musannifnya.  Sehingga mereka lebih semangat lagi dalam belajar.

Alfaqir.

Ümraniye,Cuma,10 nisan 2020

 

Sumber:

                                I.            Islam alimleri Ansiklopedisi (jilid.8 ” IBN-I HACIB” hal.344)

                              II.            Türkiye Diyanet vakfı ISLAM ANSIKLOPEDISI (jilid.21 IBNÜ’L- HACIB”.  Hal. 55-58.  Jilid.24 “El-KÂFIYE”. Hal.153-154)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kediri oh Kediri, Part 1

Rabu, 25 September 2024, Saya bersama dengan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke Kediri. Kami pergi ke kediri dalam rangka menghadiri undangan pernikahan salah satu Mentor/Ustadzah MTA UIN Bandung, yaitu teh Makhyatul Fikriya yang akan menikah pada Sabtu 28 september.  Awal Mula Perjalanan Mula-mulanya berawal dari kang Nafi yang ngajak mentor-mentor untuk ikut serta ke Kediri buat kondangan. Tentu saja hal ini disambut baik oleh kami, khususnya saya yang kala itu memang sedang butuh healing alias jalan-jalan. lumayan, ada moment dan ada alasan buat keluar kota. apalagi dengan porsi budgeting yang relatif sangat murah.  Kami termasuk yang beruntung sih, karena kami dapet tiket kereta kahuripan di harga 200k, dan itu sudah PP (Pulang pergi). biasanya tiket-tiket kereta apalagi kereta yang antar provinsi mahal-mahal. bisa menyentuh angka 600k an untuk yang eksekutif, namun kali ini rejeki lagi ada di pihak kami. wkwk Malam itu juga, yang fiksasi langsung beli tiket, kare...

Dermawannya Gusti Allah itu Ga Harus Follow Dulu Kayak Influencer Jaman Sekarang

Ahmad Muzayyin Dalam dunia digital yang kita hidupi sekarang, istilah influencer sudah begitu melekat dalam keseharian. Kita sering kali melihat bagaimana para influencer, selebriti, atau konten kreator menjanjikan berbagai giveaway dan bentuk-bentuk “kedermawanan” lainnya, tetapi ada syaratnya: follow dulu ya akun gue! Seolah-olah, rasa kedermawanan ini memiliki harga, dan harga itu adalah "klik" pada tombol follow. Ini lumrah di era modern di mana perhatian, engagement, dan angka followers adalah aset yang paling berharga. Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan lebih dalam: apakah benar bahwa segala bentuk pemberian dan kebaikan harus diikuti dengan pamrih? Haruskah kebaikan dibarter dengan perhatian atau popularitas? Jika kita amati lebih jauh, dunia digital ini mencerminkan pola pikir transaksional yang semakin berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk mendapatkan sesuatu, kita mesti “membayar” dengan sesuatu yang tak melulu uang, tapi bisa berupa perhatian...

Mengkritik Atasan: Jalan Pintas Menuju 'Dikucilkan (seni halus menuju kejauhan sosial)

Di ruang-ruang rapat organisasi, baik itu korporat besar, lembaga non-profit, hingga komunitas kecil, sering kita temui fenomena yang hampir seragam: hening yang meresahkan saat kesempatan memberi masukan terbuka. Alih-alih menjadi momen diskusi kritis dan konstruktif, forum-forum ini sering kali diwarnai oleh anggukan patuh, persetujuan semu, dan bisikan-bisikan yang terpendam. Mengapa anggota kerap merasa terkungkung untuk mengungkapkan ketidaksetujuan mereka terhadap atasan? Mengapa kritik yang seharusnya sehat dianggap racun yang memecah hubungan profesional? Fenomena ini, jika dibedah secara fenomenologis, menunjukkan bahwa rasa takut dan ketidaknyamanan untuk mengkritik atasan bukanlah hal sepele. Ketakutan ini berakar pada ancaman implisit—takut dimusuhi, dijauhi, dikucilkan, atau diperlakukan berbeda setelah menyuarakan pandangan yang tak sejalan dengan pemimpin. Bagaimana mungkin organisasi bisa berkembang jika anggotanya takut berkata jujur? Ini bukan sekadar masalah komunika...